Tetra-punya-cerita
Selasa, 05 Agustus 2008
Untuk Seorang Suami di Luar Sana
Yang menjengkelkan, kalo hujan, jemuran akan kering ala kadarnya. Aku tidak suka yang begini. Aku sukanya jemuran yang kering dengan garing, dan kalo dicium, akan sarat dengan aroma matahari yang hangat dan segar. Tapi kayaknya untuk beberapa bulan kedepan aku harus sabar-sabar sama cuaca. Mau bagaimana lagi ?
Sebenarnya point tulisanku bukan masalah cuaca, bukan juga masalah hujan, apalagi jemuran. Masalahnya kemarin.karena anak-anak masih libur sekolah, aku jadi tidak punya kegiatan. Seringnya iseng dan keluyuran sendiri. Kemarin kebetulan aku mampir ke carrefour, nyari makanan ikan, karena sudah dari kemarin ikan-ikan itu puasa. Waktu mengambil trolly, aku berpapasan dengan pasangan suami istri paruh baya, mungkin berumur sekitar 45 tahunan. Muka suaminya kecut sementara istrinya perparas memelas. Tak berapa lama aku kembali berpapasan dengan mereka dilorong kebutuhan rumah tangga. Aku dengar si suami berbicara keras pada istrinya, entah apa permasalahan mereka. Aku lewati mereka. Sampai ujung lorongpun aku masih mendengar bentakan-bentakan si suami kepada istrinya. Aku sempat berpikir, apa kesalahan si istri sampai suaminya marah sebegitu ??
Setelah belanja, aku sengaja mampir di kios DVD bajakan. Sudah jadi kebiasaanku untuk mampir di kios itu, mencari kalau-kalau ada film baru. Dilema juga. MUI pernah berfatwa bahwa membeli barang bajakan dikategorikan perbuatan haram. Tapi mau bilang apa. DVD bajakan selalu up to date judul-judulnya, murah dan dimana-mana ada. Siapa yang mau repot mencari rekaman DVD asli yang mahal dan harus menunggu minimal 3 bulan setelah filmnya tayang di bioskop?. Mungkin karena lagi sial, aku kembali bertemu dengan si suami yang marah-marah tadi. Sepertinya dia juga mempunyai hobi yang sama dengan ku. Istrinya entah dimana. Sewaktu si suami itu menanyakan sebuah judul film pada penjaga kios, aku kaget, tercengang, dan refleks menoleh padanya. Bukan kaget karena apa-apa, tapi aku kaget mendengar nada suaranya yang ramah dan lemah lembut. Betapa kontrasnya dengan nada bicaranya kepada sang istri tadi. Aku jadi eneg melihat muka sisuami itu.
Dalam perjalanan pulang aku masih memikirkan kejadian tadi. Betapa si suami tega berbicara keras dan membentak istrinya, sementara dengan orang lain yang entah siapa, dia mengeluarkan stok suara yang lembut, lemah gemulai. Aku jadi teringat suamiku sendiri. Suamiku yang biasa saja. Mukanya, biasa. Perawakannya, biasa. Sifatnya, biasa. Malah cenderung pendiam, pelupa, sering tulalit dan tidak romantis. Tapi, aku bersyukur bersuamikan dia. Pengalaman 7 tahun berumah tangga dengannya, tidak sekalipun dia berbicara keras kepadaku. Apapun perangaiku yang membuat dia kesal dan marah, dia akan memilih diam ketimbang mengasariku. Kalau berbicara kepadaku atau kepada anak-anak selalu disertai pandangan sayang.
Jadi untuk para suami-suami diluar sana, ketahuilah. Istrimu adalah orang yang selalu berada di sisi mu. Melayani mu. Mengurus segala keperluan mu. Melahirkan anak-anak mu, terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki mereka. Perlakukanlah istri-istri mu dengan baik, hargai mereka. Pernahkan kalian para suami berpikir, bisakah kalian menjadi seperti sekarang, tanpa ada seorang istri disamping kalian ?.
Dan untuk bapak yang entah siapa yang perpapasan denganku di kios DVD, Pak, muka ramah dan suara merdumu, yang kau peruntukkan untuk penjaga kios, seharusnya itu menjadi hak istrimu ! cobalah untuk lebih menghargai istri sendiri dibandingkan penjaga kios, yang tidak punya hubungan apapun dengan mu. Buka mata pak, sekarang tidak jamannya lagi lelaki selalu benar dan selalu berada diatas perempuan. Belajarlah untuk menmghargai istri sendiri pak. Salam dari saya, orang yang tak sengaja perpapasan di kios DVD.
Andrea Hirata
Aku langsung membandingkan kisah Andrea dengan diriku sendiri. Aku langsung merasa risih. Betapa tidak bersyukurnya aku selama ini. Dimasa SD, aku bisa ngambek sejadi-jadinya dan mogok pergi sekolah Cuma gara-gara kaus kaki favoritku tidak bisa dipakai karena belum kering dijemur. Sementara dibelahan sana temannya Andrea yang bernama Lintang, harus ngengayuh sepeda kumbangnya yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya sejauh 30km untuk bisa sampai disekolah. Dimasa SMA Aku sering cabut pelajaran sekolah untuk sekedar nongkrong-nongkrong dikantin tanpa rasa bersalah, sementara Andrea dan mungkin banyak lagi anak-anak diluar sana harus jadi kuli ngambat untuk sekedar bertahan biar bisa terus sekolah.
Mungkin tidak diriku saja yang merasa tertampar mukanya membaca novel Andrea Hirata. Aku yang selama ini bisa dengan gampang mendapatkan pendidikan, dengan didanai dan disaranai penuh oleh orang tua, tanpa sadar menjadi pribadi yang berpikiran santai, yang berpikir bahwa pendidikan adalah hal yang sudah sewajarnya aku dapat, jenjang dari mulai Sekolah Dasar sampai Universitas, emang sebegitulah seharusnya dijalani. Ironis sekali.
Aku tidak berkata bahwa aku tidak bersungguh-sungguh dalam menjalani pendidikanku. Aku serius. Bersungguh-sungguh juga. Tapi memikirkan betapa selama ini aku bisa dengan mulus mendapatkan pendidikan, tanpa harus mencari uang sendiri, bersusah payah sendiri, jadi merasa malu. Malu karena seharusnya aku masih bisa memberikan lebih dari hasil yang sekarang.
Jam dan Havi
Gara-gara udah bisa membaca jam Havi sekarang sedikit lebih teratur dan mudah diatur. Jadwal nonton TV sore dari jam 16.00 – 18.30, selalu ditepati. Jam 18.25 biasanya dia sudah siap-siap pegang remote biar tepat jam 18.30, klik, TV langsung mati. Begitu juga dengan jadwal makan dan minum susu. Kalo sudah waktunya minum susu dan dia belum lihat aku menyiapkan susu , dia akan bertanya “ mama, kan jadwalnya minum susu sekarang?”. Pintar dan membanggakan memang.
Tapi sekarang aku justru kena batunya. Setengah jam dari jadwal mengantar dia sekolah aku belum beres-beres, pasti langsung di protes dan disuruh cepat mandi. Telat menjemputnya disekolah lima menit saja dia akan manyun menunggu ku di gerbang sekolahnya. Kelamaan dikit di depan komputer, dia akan sok tuanya berkata “ mama tu udah dua jam lebih di depan komputer, nanti matanya bisa sakit lho,..!”. Yang paling parah kalo aku mau keluar rumah. Dia akan dengan serius bertanya mama kemana dan berapa lama. Pernah aku pulang telat satu jam dari janji ku padanya sebelum berangkat, pas aku sampai dirumah, dia sudah duduk diteras rumah dengan muka hampir menangis sambil memegang jam meja kecil. Begitu aku turun dari mobil dia berkata “ mama sudah bikin Havi khawatir, mama telat satu jam pulang kerumah. Havi pikir mama kecelakaan dijalan,dari tadi Havi terus berdoa biar mama selamat dijalan,...!!”.
Duh,..satpam kecil ku itu ternyata begitu peduli dengan janji jam kedatangan ku. Dari satpam kecil itu juga aku belajar untuk selalu menepati janji, se sepele apa pun menurut ku janji itu. Janji adalah janji. Dan janji adalah hutang yang harus dilunasi.