Tetra-punya-cerita

Jumat, 19 Desember 2008

As Happy As We Can...

Siang ini ku dapat kiriman surat lagi dari bank Lippo. Surat pemberitahuan kenaikan suku bunga pinjaman KPR. Bukan main, ini sudah kali ke tiganya kenaikan suku bunga dalam empat bulan terakhir. Mau tau berapa tingkat suku bunganya sekarang ? 16.4 % saja. Bukan main. Melonjak drastis 2% dari bulan kemarin. Dan suamiku kalau aku beritahukan pasti akan langsung mencak-mencak protes menelpon bank yang bersangkutan. Bukan main. Dan sudah tiga kali juga aku menyuarakan bukan main.
Ini lah imbas krisis. Alhamdulillah, aku Cuma merasakan imbasnya lewat kenaikan suku bunga KPR saja. Aku masih diberi banyak kemudahan dan kesenangan oleh Allah. Alhamdulillah....

Dan untuk turut bersimpati dengan segala imbas dari krisis, aku dan suamiku bertekat untuk lebih arif dalam membelanjakan uang. Setelah di telaah, tidak ada post pengeluaran yang bisa direvisi kecuali pengeluaran untuk entertainment. Kasarnya, kami harus mengurangi biaya hura-hura. Dan telunjuk pun mengarah pada kening kami berdua. Karena kesenangan anak-anak harus lebih utama. Mulai lah kami membuat daftar di kepala masing-masing hal apa saja yang harus di rem dan di kurangi.

“Nongkrong di starbuck harus di kurangi“

acungan jempol setuju dari aku dan suami...

“Kurangi kebiasaan menyambangi restoran baru, yang kebanyakan bikin kecewa, karena rasa tidak sepadan dengan harga“

ajungan jempol antusias dari aku, yang diikuti dengan acungan jempol setengah hati dari suamiku...
(karena untuk point ini telunjuk khusus menunjuk ke keningnya)


“kurangi belanja yang tidak perlu, harus di bedakan antara berbelanja karena butuh atau sekedar kepengen beli“

acungan jempol super semangat dari suamiku, dan terpaksa aku ikuti dengan ogah-ogahan..
(telunjuk beralih ke jidatku)

tapi, biarpun kami telah sepakat untuk arif dan bijaksana dalam pengeluaran, tetap saja implementasinya susah luar biasa.
Seringkali di malam-malam yang garing, di mana tidak ada acara TV yang seru sedangkan mata belum mengantuk, kami akhirnya nongkrong di starbuck sambil tersenyum-senyum berdua karena telah mengkhianati kesepakatan bersama.

Dengan alasan malas memasak, sering kami akhirnya makan malam di luar, di tempat yang lumayan cozy, sekedar ganti suasana. Dan tak sadar menghabiskan uang cukup besar untuk biaya makan seminggu.
Dan kami akan tertawa-tawa karena telah kembali berkhianat.

Tidak jarang, dikala sedang iseng sekedar jalan-jalan, tiba-tiba aku menemukan tas branded yang di diskon setengah harga, sehingga rasanya rugi sekali kalau tidak di beli. maka suamiku dengan baik hati akan berkata seperti ini : “beli aja mam, gak tiap hari nemu yang begini..“
Dan kami akan terpingkal-pingkal karena mengulangi kembali pengkhianatan yang sama.

Dengan rentetan pengkhianatan yang telah kami lakukan tanpa sedikitpun merasa bersalah itu, akhirnya kami sepakat untuk merombak semua kesepakatan. masa bodoh dengan segala imbas krisis. Hidup Cuma sekali, dan kalau bisa mengisi dan menjalani hidup dengan hal yang membahagiakan dengan pasangan dan anak-anak.., kenapa ribut sok berpartisipasi segala dengan krisis ??
Selfish sekali memang, tapi kami ingin hidup as happy as we can...!!
posted by tetra at 01.04 0 comments

Selasa, 09 Desember 2008

twilight

Dengan asumsi aku belum pernah membaca novelnya, maka film twilight prediketnya untukku bagus banget. Film yang sexy sekaligus romantis abis.

Diluar tema percintaan ABG nya, diluar setting film yang teenager banget, tapi tema cinta yang ditekan kan di film itu dalam banget. Mencintai tanpa syarat. Itu yang membuat film nya menjadi sexy dan romantis. Menurut aku pribadi lho ya..

Betapa cinta memang tanpa syarat. Tidak mengenal perbedaan umur, waktu, bahkan martabat. Rasa cinta bisa hadir kedalam hati siapa saja, bahkan kedalam hati seorang vampir sekalipun....

Kisah percintaan manusia dan vampir yang absurb, ganjil dan mengharukan.
Aku sangat tersentuh pada adegan dimana Edward sang vampir hampir tidak bisa membedakan antara keinginan untuk bercinta atau untuk memangsa kekasihnya, Isabella.
Memilukan, ganjil, sekaligus mengharukan.

Hmm,
Pengen jadi ABG lagi..
Pap..!! make me falling in love again donk..!!
hahaha
posted by tetra at 05.43 0 comments

Sabtu, 06 Desember 2008

Kisah Perjalanan Cinta

Kalau mau ngomongin masalah cinta, entah kenapa, bukan GR atau besar kepala, banyak teman lelakiku yang suka dan tergila-gila kepadaku. Seingatku, banyak sekali di antara mereka yang akhirnya menyatakan cinta, setelah sebelumnya dengan yakin berkata, bahwa kami hanya akan berteman biasa saja. Entah apa sebabnya. Padahal menurutku, aku tidak terlalu istimewa. Mukaku biasa saja, kelebihannya mungkin bisa di kategorikan sedikit manis. Apalagi kalau masalah postur, dengan tinggi yang tidak mencapai 155cm, bobot rata-rata 44 kg, apa istimewanya ?
Biarpun aku tidak istimewa, tetapi aku banyak menyimpan cerita istimewa tentang perjalan kisah cintaku tersebut. Mau tau kisah-kisah istimewa itu ? nah, aku akan pilihkan beberapa kisah yang berkesan dan sampai sekarang aku masih ingat detail kejadiannya. Dan kalian, harus duduk manis mendengarkan nya.

Seingatku, pertama kali aku kenal dengan istilah naksir-naksiran, itu ketika aku berada di kelas 5 Sekolah Dasar. Pada saat itu, aku selalu di buat tersipu malu oleh temanku, yang selalu menyampaikan salam dari seorang kakak kelas yang praktis, masih kelas 6 Sekolah Dasar. Setiap hari temanku itu bekata : “Tet, dapat salam tuh, dari...., bagaimana ??”

(nama nya gak usah di sebut kali ya, takut nanti suamiku protes, dan meminta untuk post cerita ini di delete :))

waktu itu di tanya “bagaimana ?” ya terus terang aku bingung mau menjawab apa. Ya bagaimana dong ??.
mungkin karena aku bingung, beberapa hari kemudian, temanku itu menyampaikan sepucuk surat dari kakak kelasku tersebut. Sepucuk surat yang aku ingat betul bersampul biru dan beraroma wangi. Ternyata, nasib surat itu menjadi surat cintaku yang pertama. Isinya aku sudah lupa, tetapi garis besarnya standar lah, tentang dia yang suka ke aku, dia yang tiba-tiba jadi gugup kalau bertemu aku, dan pertanyaan klise diakhir surat yang bertanya, mau kah aku menjadi pacar dia.

Mengingat moment itu aku sampai sekarang masih tertawa sendiri. Kelas 5 Sekolah Dasar, aku kalau makan masih disuapi ibuku, rambutku yang panjang, masih disisiri ibuku, bahkan seingatku aku masih sering main kuda-kudaan dengan ayahku. Dan, tiba-tiba ada yang menawarkan diri untuk menjadi pacarku ? aku sungguh tidak siap sama sekali. Blingsatan jadinya.
Tetapi aku menyikapinya dengan cukup dewasa pada waktu itu. Suratnya aku buang di jalan dengan terlebih dahulu merobek-robeknya menjadi serpihan kecil, sehingga tidak bakal terbaca oleh siapapun. Dan kalau aku berpapasan di jalan dengan kakak kelasku itu, maka aku akan berlagak seolah-olah tidak pernah ada kejadian istimewa antara kami.Cukup dewasa bukan ? untuk ukuran anak kelas 5 Sekolah Dasar ? haha..

Tapi peristiwa aku dapat surat cinta itu, berpengaruh pada perangaiku dirumah. Aku sudah tidak mau lagi disuapi kalau makan. Aku pun selalu menolak kalau ayahku mengajak main kuda-kudaan. Perasaanku waktu itu, bagaimana ya ?? sudah dapat surat cinta gitu loh, masa makan masih disuapi ?? jadi aku putuskan, sudah tidak waktunya lagi untuk main kuda-kudaan atau makan disuapi. Hmm..pengaruhnya positif juga.

Kisah kedua yang juga menarik, terjadi waktu aku kelas 1 SMP.
Masih dengan kakak kelas, yang kebetulan ayahnya adalah sahabat dekat ayahku. Persisnya kapan dia mulai suka, aku sudah tidak ingat, tetapi yang pasti, dia bercerita kepada orang tuanya bahwa dia suka kepadaku. Dan jadilah kami bahan olok-olokan para orang tua sampai beberapa bulan kedepan. Aku sampai dipanggil dengan sebutan menantu oleh ibunya pada waktu itu. Maluu..sekali. dan aku marah sekali pada anaknya, yang dengan nekat juga mengirimiku surat cinta. Tapi saking marahnya, begitu surat itu disampaikan padaku, aku baca, dan langsung aku kembalikan kepadanya. Besoknya dia mengirimkan surat ke dua. Isinya singkat saja, Cuma berisikan satu kalimat tanya :

“Jadi bagaimana jawabannya..??”

Padahal seingatku isi suratnya yang pertama bagus sekali. Ditulis dengan bahasa tingkat tinggi, yang menceritakan betapa dia sangat menyukai bunga mawar, dan aku di matanya, bagaikan sekuntum bunga mawar yang baru mekar. Baguskan ? berkelas sekali bahasanya. Tapi ya, karena aku sudah terlanjur marah duluan, maka sebagus apapun isi surat yang mungkin ditulisnya dengan merenung terlebih dahulu di tengah malam buta, sudah tidak berpengaruh untukku. Dan panggilan menantu dari ibunya harus aku tanggungkan sampai aku menginjak kelas 1 SMA. Betapa lamanya, membuat para orang tua itu lupa dengan kisah tersebut.

Memasuki kelas 2 SMP, kisahku, sudah mulai mengacaukan memori. Ehm..lumayan banyak yang naksir soalnya. Tapi ada satu kisah yang benar-benar membuatku ketakutan setengah mati, sampai rasanya aku takut untuk datang kesekolah.
Masih berurusan dengan kakak kelas. Aku sama sekali lupa siapa namanya, Tapi dia menunjukkan rasa sukanya kepadaku dengan cara yang amat sangat mengerikan untukku. Kalau dia melihatku, maka dia akan selalu ingin mendekati, dan selalu berkeinginan besar untuk menyentuhku. Dan kalau aku buru-buru menghindar, maka dia tidak akan segan-segan mengejarku. Sungguh menakutkan. Mungkin dia agak “sakit”, sehingga berkelakuan seperti itu. Teror itu baru berakhir, setelah aku bercerita kepada kakakku, yang langsung mendatangi sekolahku untuk melaporkan kejadiannya kepada guru yang berwenang. Fiuh..!!

Anehnya, di masa SMP dimana teman-temanku sudah banyak yang mulai pacaran, aku sama sekali tidak berminat untuk menyerahkan diri, menjadi pacar seseorang pada saat itu. Entah kenapa. Penasaran ingin merasakan bagaimana rasanya pacaran pun tidak.

Memasuki masa SMA, banyak sekali kisah yang menyangkut perjalanan kisah cintaku. Tapi Aku pilihkan saja dua diantaranya, yang benar-benar berkesan.
Kisah pertama, tentang aku yang ditaksir setengah mati oleh seseorang. Demikian menggebunya dia dengan perasaan sukanya, sehingga secara tidak dia dasar, dia sudah seperti bayangan pada tubuhku. Selalu ada di dekatku, membayangi kemana pun langkahku. tapi anehnya, tidak sekalipun dia berani menyatakan rasa suka, cinta, atau apalah istilahnya. Dia hanya selalu berada di dekatku, diam-diam memandangiku dengan lidahnya yang kelu. Mungkin semua kata-kata yang sudah dilatih dan dihafalkan untuk penyampaian rasa suka, tertahan di tenggorokannya. Herannya, kenapa dia tidak berfikiran untuk menuliskannya dalam sebuah surat?. mungkin waktu itu sudah tidak jamannya lagi menulis surat cinta, sehingga dia hanya bisa tersenyum-senyum konyol kalau berada di dekatku. Dan naasnya, dengan adanya dia selalu di dekatku, secara tidak langsung, memberikan gambaran bahwa dia lah pacarku. Jengkel setengah mati aku dibuatnya. Padahal, waktu itu aku sebenarnya diam-diam menyukai seseorang. Nah ini kisah keduanya.
Ya, diam-diam aku menyukai seseorang.Teman seangkatan persisnya. Tragisnya, seseorang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda sedikitpun kalau dia juga menaruh perhatian kepadaku. Justru karena itu aku makin penasaran kepadanya. Segala macam bentuk cari perhatian di depannya sudah aku lakoni. seperti lebih genit mendandani rambut, lebih semangat berbicara kalau kebetulan dia melintas, sampai pura-pura mengajukan pertanyaan yang tidak penting pun sudah aku lakukan. Tapi, reaksinya datar saja. Malah cenderung cepat-cepat menghindar kalau aku dekati. Dan aku menyalahkan “bayanganku” tadi, yang menjadi penyebab itu semua.

Usai masa SMA, makin beragam kisah cintaku. Tapi ada satu kisah yang khusus, yang layak diceritakan disini. Waktu itu, di semester tiga masa perkuliahanku, aku membuat suatu keputusan besar dalam hidupku. Aku memutuskan untuk berkerudung. Aku ingat betul kejadiannya. Pas pada tanggal 7 September 1994, aku datang ke kampus dengan memakai kerudung, yang sangat jelas masih janggal terpasang di kepalaku. Teman seangkatanku melongo melihat perubahan pada dandananku. Cengo’ kalo bahasa sundanya. Aku yang biasanya cuek dengan dandanan, merasa santai dengan celana pendek dan rok mini, akhirnya mendapat hidayah dan pencerahan dengan memakai kerudung.
Kerudung ini juga yang membuat seseorang yang tadinya berusaha mendekatiku dengan gaya santai, merubah drastis pendekatannya kepada hal yang agak agamis, yang terakhir aku sadari itu Cuma sebuah taktik palsu darinya. Tapi pada saat itu, aku tergoda untuk membuka hati untuknya, ehem...!!

Tapi, kisah itu tidak berakhir happy ending. Penasaran kenapa? Begini ceritanya.

Tipikal pergaulan teman-teman di kampusku, ya seperti gaulnya anak-anak Bandung kebanyakan. Terlalu “ramah”, untukku yang berasal dari kota kecil yang sangat keras adab sopan santunnya. Singkatnya, sore itu aku diajak jalan oleh sang pujaan hati. statusnya masih sebagai teman waktu itu, belum ada komitmen dan pernyataan apapun tentang hubungan kita. So, kalau tidak salah aku dan dia jalan ke sebuah mall. Masalah mulai timbul, karena dia dengan santai dan secara tiba-tiba menggandeng mesra tanganku. Biarpun kaget setengah mati, tetapi aku masih berusaha bersikap biasa. Aku tepis tangannya perlahan, dengan alasan mencari-cari sesuatu di dalam tasku. Entah benda apa yang aku cari. Yang pasti aku mencarinya dengan bersemangat dan tak kunjung menemukan benda apapun itu....
ternyata dia sok pe-de juga. Tidak merasa aku menolak gandengan mesranya, dia malah sambil lalu bertanya aku mencari apa, dan dengan santainya melingkarkan tangannya dipinggangku. Busyet..!! slowly man...!!. dan aku, terpaksa berlagak harus buru-buru ke toilet, untuk melepaskan rangkulan mesranya dipinggangku.

Aku langsung tak berselera. Persentase rasa suka ku padanya, langsung merosot tajam ke level paling bawah. Kembali ketitik nol. Bukan karena sok suci atau bersikap munafik, tetapi pada saat itu, boleh dikatakan aku sedang berada di titik tertinggi tingkat keimanan dan ke shalehanku. Mendapat perlakuan seperti itu, rasanya aku dicurangi dan tidak dihargai. dan dapat diprediksi bagaimana akhir kisahku itu. Gatot. Gagal total.

Nah, terakhir, ini kisah yang paling menarik untuk diceritakan.

Kisah terakhir ini dimulai pada saat aku mendapat pekerjaan baru. setelah hampir setahun aku bekerja di perusahaan yang lama, yang lingkungan kerjanya selalu dengan bapak-bapak dan orang yang lebih tua, akhirnya aku menemukan pekerjaan baru yang rata-rata teman sekerjanya seumuran dengan ku. benar-benar menemukan suasana baru yang fresh, pas dengan keinginan ku. makanya aku buru-buru menyatakan resign ditempat lama, dan berbenah untuk segera pindah ke tempat yang baru. Atasanku, dengan berbagai cara berusaha menahanku. Di iming-iming kenaikan gaji, aku bergeming, di tawari pindah posisi, aku cuek. Aku sudah bosan dengan lingkungan tua, yang di tawarkan mereka. Aku akan mencari pencerahan dengan mencebur ke lingkungan yang baru.

Dan,..
Jadi lah aku pendatang baru, di perusahaan baru. Pendatang baru yang ramah, rame, bersemangat, suka tertawa, lucu dan lumayan manis, yang langsung di terima baik oleh rekan-rekan sekerja.
Mungkin karena kombinasi dari ramah,rame,bersemangat,suka tertawa,lucu dan lumayan manis tadi, membuat seseorang yang kebetulan team leader ku, merasa mendapatkan angin segar di teamnya. Meeting team, untuk alasan efektifitas, berubah menjadi meeting sub-team, yang mengharuskan aku atau rekan team yang lain, meeting berdua saja diruangan meeting membicarakan masalah pekerjaan dengan team leader, memang menjadi efektif sebenarnya, dalam berbagai kepentingan. Seperti misalnya saat aku memutuskan tidak akan ikut acara kantor ke Anyer untuk berwisata, team leaderku pada salah satu sesi meeting, dengan ringan di akhir meeting berkata :

“Loe ikut aja ke Anyer, acara gak bakal seru kalau gak ada loe..”

Dan mulai lah ada pendekatan. Di mulai dengan minta diajarinya team leader tersebut membuat e-mail account di Yahoo, yang buntutnya menanyakan alamat e-mail pribadiku. Semenjak itu, setiap hari selalu saja ada e-mail-email tidak penting di account Yahoo ku.
e-mail pertamanya berbunyi :

“Hi, there, Cuma mastiin kalo alamat e-mail loe kemarin bener.”

e-mail itu aku reply begini :

“Yup, alamatnya bener banget..!!”

kemudiam e-mail itu mulai menjurus lebih pribadi, seperti ini :

“Outfit loe hari ini bagus banget, jadi males deh gue, harus pergi meeting seharian..!”

Gak penting banget kan?. tapi entah kenapa, aku selalu penasaran menunggu-nunggu e-mail darinya.

Walau pun pada saat itu, aku sudah mengetahui niat dan tujuan dari e-mail gak penting yang dikirim kepadaku, tetapi tanggapanku masih tawar-tawar saja. Aku masih membuka peluang yang sebesar-besarnya untuk siapapun yang mencoba melakukan pendekatan kepadaku. Dia pun mengetahui hal itu, makanya dia tidak berani mengambil langkah nekat. Sampai pada suatu ketika, dia mengajakku berbicara serius mengenai visi dan misi kehidupannya ke depan. Dalam curhatan singkatnya itu, secara langsung dia mengatakan bahwa dia ingin ada aku disampingnya, dalam paruh waktu kehidupannya yang akan datang. Baru sekali itu aku mendapat pernyataan suka yang berkelas dan terpola rapi seperti itu. Sepertinya dia tidak main-main. Dan untuk pertama kalinya juga aku menyatakan kesediaanku untuk berkomitmen dengan seseorang.

Akhirnya aku jadian dengannya. Dan, kalian tau apa permintaan pertamanya kepadaku, setelah kami resmi jadian? permintaannya sederhana saja. Dia memintaku untuk memberitahukan kepada semua temanku, bahwa sekarang aku sudah jadian dengannya, jadi, dia minta mulai saat itu tidak perlu ada lagi telepon-telepon atau e-mail-e-mail yang gak penting, dari siapa pun. Singkatnya aku harus menutup pintu peluangku untuk orang lain. Hahaha. Fair enough. Dan takdir nya lah, dia menjadi pacar resmiku yang pertama, sekaligus yang terakhir.

Mengungkapkan perjalanan kisah cinta ini, membuktikan secara pasti bahwa maut, rezeki dan jodoh memang merupakan misteri ilahi. Pacar pertama sekaligus yang terakhir, yang kini telah menjadi belahan jiwa, kekasih hati, insyaallah sampai mati, benar-benar hadir seperti pepatah :

A man in the right time and the right place..

Seseorang yang ada disana pada waktu dan tempat yang tepat. Aku membayangkan kalau dia hadir pada masa SMA atau masa kuliah ku, pasti dia akan bernasib sama seperti kisah-kisah gagalku nyang lain. Tetapi Allah maha tau menghadirkan dia pada saat dan tempat yang tepat, sehingga bisa membuatku takluk pada kharismanya.

Biarpun ada yang merayu dengan surat berwarna biru, ada yang berusaha memesona dengan bahasa tingkat tingginya tentang bunga mawar, ada yang setengah gila mengungkapkan rasa sukanya, ada yang membanyangi kemanapun aku melangkah, ada yang sangat aku gandrungi tetapi menjauh, bahkan ada yang alim tapi nekat. Tetapi
Allah tidak membukakan hatiku untuk mereka semua. Takdirku, takluk oleh seorang yang pendiam, serius dan tidak romantis, tetapi mempunyai segudang cadangan rasa sayang dan sabar yang tiada habisnya. Seseorang yang benar-benar bisa melengkapi semua kekuranganku, seperti aku ditakdirkan untuk melengkapi semua kekurangannya..
posted by tetra at 06.24 1 comments

Rabu, 03 Desember 2008

Penat

introspeksi, itu kuncinya.........
merelakan itu solusinya.........
membenahi itu langkah berikutnya..........
sekarang,
mencoba diam...
merenung......
dan mencerna........
huamf...hati rasanya terlalu penat....
posted by tetra at 15.01 0 comments