Tetra-punya-cerita
Rabu, 29 Oktober 2008
Manusia Bermuka Dua
sungguh aku tidak mengerti, bagaimana dia bisa menyetel muka dan kata yang keluar dari mulutnya sedemikian rupa, sehingga terdengar manis, tulus dan santun, padahal kenyataannya hatinya sangat amat berbeda. orang lain mungkin bisa dia tipu, tetapi jangan coba-coba membodohi aku dengan setelan muka manis dan tutur santun beracunnya itu.
dari dulu aku memang tidak terlalu suka dengan orang yang kelewatan ramahnya. entah kenapa, rasanya terlalu dibuat-buat dan penuh kepalsuan. mungkin karena sangat berbeda dengan sifatku yang spontan, dan apa adanya. kalau lagi kesal, ya kesal saja. kalau suasana hati lagi suntuk ya suntuk saja. aku tidak akan pernah berpura-pura untuk manis-manis dimuka dan dimulut, kalau kenyataannya hatiku sedang kalut. dan anehnya, segala kepalsuan dan kepura-puraan yang dipertontonkan seseorang, akan langsung terbaca jelas dimukanya olehku, sejelas seperti aku bercermin. entah kenapa...
dan untuk kamu yang sedang berpura-pura, entah untuk apa tujuannya, ada satu pertanyaan untukmu : "Apa kamu tidak merasa capek dengan kepura-puraan yang kamu lakoni selama ini..??"
tidak kah akan lebih melegakan menjadi diri sendiri..??
dan mungkin, tidak cuma aku yang bisa melihat jelas kepura-puraan mu. mungkin ada banyak orang diluar sana yang bisa melihat kepura-puraan yang kamu lakoni sejelas mereka sedang berkaca. dan bahkan mungkin ada banyak orang diluar sana yang sedang mencibir melihat lakon mu.
ya Allah,..alhamdulillah engkau telah menjauhkan aku dari sifat munafik dan bermuka dua...
alhamdulillah ya allah....
Senin, 27 Oktober 2008
"Servant addict"
kalau misalnya salah satu dari asisten ku itu ijin pulang untuk urusan keluarga, aku mulai panik dan kebakaran jenggot. bangun pagi bawaannya udah BT, dengan urusan tetek bengek anak-anak. dan dimataku biasanya kalau nanny nya pergi, anak-anak jadi dua kali lebih rewel dan banyak tingkah. kalau sudah begitu, pasti jadinya cepat marah dan emosian. suami ku paling rajin mengingatkan " yang sabar-sabar sama anak-anak ya Mam..!!"
sebegitu terlenanya aku dengan kehadiran pembantu, sehingga aku jadi servent addict.
tapi lebaran kali ini berbeda. kedua pembantu ku itu ijin mudik lebaran, aku lepas dengan perasaan sedih. sedih, karena nanny nya anak-anak ijin untuk tidak akan kembali lagi karena akan menikah. aku sedih, karena aku sudah terbiasa dengan mereka. mencari orang baru lagi, dan beradaptasi lagi dengan mereka, sama sekali bukan proses yang bisa dibilang gampang.
tapi,..aku tidak kalang kabut memikirkan bagaimana aku nanti menghandle urusan rumah dan anak-anak. ada satu pernyataan mbak Linda, tukang mie ayam langgananku di sekolahan Zora, yang benar-benar berkesan untukku. waktu itu aku bertanya kepadanya " mbak,..apa gak repot jualan gak ada yang bantuin ??, mana harus menyediakan kebutuhan rumah tangga lagi..??"
dengan santai mbak Linda menjawab : " mbak Tetra,...kerjaan itu, dijalani aja. gak usah dipikirkan ribetnya. yang penting kita mengerjakannya dengan ikhlas..."
aku terdiam. apa aku kurang ikhlas selama ini ??
dan lebaran kali ini, aku berusahan menjalankannya dengan lebih ikhlas. bangun pagi aku berusaha tersenyum, dan berusaha bangun lebih awal, untuk bisa menyelesaikan urusan rumah tangga dahulu, sebelum mengurus anak-anak.
menyapu, ngepel, setrika, aku jalani dengan ringan. capek memang, tapi aku tidak BT. dan aku tidak gampang marah dan emosian seperti biasa. suamiku membantu meringankan tugasku dengan membantu menyuapi anak-anak dan mencuci piring. ternyata piring kotor itu tidak ada habisnya. selalu adaaaa...saja yang kotor.
dan sekarang, aku mulai terbiasa dengan rutinitas itu. aku jadi suka memandikan dan mendandani anak-anak. senang rasanya bisa bercanda-canda memandikan mereka.
yang lebih menakjubkan lagi, sekarang rasanya aku punya dua pembantu baru, kok rasanya kebanyakan. benar kata mbak Linda, sesuatu kalau dikerjakan dengan ikhlas, akan terasa ringan.
masalahnya sekarang, aku tidak tega untuk memberhentikan salah satu dari pembantu ku itu, jadi kalau kalian butuh seorang pembantu, hubungi saja aku....;))
tidak ada lagi istilah "servant addict" untuk ku sekarang...
Sabtu, 11 Oktober 2008
Catatan Tentang Sebuah Gelar Kebanggaan…………
aku jadi teringat sebuah kejadian waktu aku masih bekerja dulu. aku mendapat e-mail dari bekas teman SMA ku yang mengabarkan kalau dia akan melangsungkan pernikahan. e-mail itu sekaligus undangan untuk semua teman yang menerimanya. ada yang menggelitik hatiku ketika membaca undangan lewat e-mail itu. waktu e-mailnya aku reply untuk menanyakan calonnya, temanku itu dengan tegas mengabarkan bahwa calon istrinya adalah drg. Rini, jadi kira-kira beritanya waktu itu seperti ini : akan menikah Ir.Ronny dengan Drg.Rini. geli sekali hatiku membacanya. makanya e-mail itu aku balas dengan super cepat. isinya seperti ini : “selamat untuk kedua calon mempelai, Ir. Ronny dan Drg. Rini, Wass, Ir. Bayu Tetra Vidia.”
dan itu kali pertamanya aku mencantumkan gelar didepan namaku.
untungnya aku memiliki suami yang seprinsip denganku masalah pemahaman sebuah gelar, makanya diundangan perkawinan kami pun, kami sepakat untuk tidak mencantumkan gelar masing-masing didepan nama.
berbeda dengan sebuah keluarga kenalanku, yang sangat mendewakan sebuah gelar. mungkin karena dibesarkan orang tua yang mempunyai gelar tinggi sehingga gelarnya kalau dituliskan, panjangnya akan melebihi panjang nama asli, makanya anak-anaknya juga terobsesi untuk meraih banyak gelar, dan menganggap keluarga mereka adalah klan keluarga elite terpelajar. entah diapa yang melantik mereka.
sampai suatu ketika realita menjitak kepala mereka. anak pertama nya jatuh hati alang-kepalang dengan seorang yang tidak bergelar sama sekali. cinta mati sampai nekat untuk menikah, walau pun tanpa restu dari orang tua. berbagai usaha telah mereka lakukan untuk mencegah sebuah pernikahan yang akan mencorengkan aib di “klan Elite terpelajar” mereka. tetapi semua usaha tersebut gagal. pernikahan tetap berlangsung dengan rundungan rasa malu yang ditanggung semua keluarga. padahal, tak ada orang yang peduli dengan status menantu meraka. mungkin ada beberapa yang sengaja bertanya untuk sekedar sengaja membuat malu mereka dengan status elite yang mereka gondol-gondol selama ini. tapi itu cuma beberapa. selebihnya, tak peduli dan masa bodoh, karena bukan urusan mereka juga.
mungkin dulu aku terlalu sengit menilai orang yang terlalu mendewakan sebuah gelar. setelah aku pikir, perbedaan orang yang mendewakan gelar dengan orang yang menganggap gelar sebuah kewajaran, mungkin sama sederhananya dengan perbedaan pilihan kita ketika memilih aneka pilihan kopi di starbuck. sewajar banyaknya pilihan yang berbeda, sehinga sebenarnya tidak perlu dibahas kenapa seorang lebih memilih ice coffee dibanding frappucino………
…Akhir pembalasan Dendam….
Luka di hati Cuma bisa dirasakan dan dinikmati sendiri sensasi perihnya. Kalian pernah merasa dikhianati ??
di khianati oleh sahabat dekat yang selama ini sudah dianggap rekan sejiwa, teman berbagi dalam suka dan duka ??
rasanya, hati ini tidak akan terlalu berdarah kalau bukan rekan sejiwa yang mengkhianati. Sadisnya, dia tidak merasa telah mengkhianati, apalagi melukai.
Apa dia tidak bisa mengkaji makna dari “mengkhianati ?”
Dan setan pun mengambil posisi, dia mulai mengipasi. Membuat panas hati yang jelas-jelas telah terbakar. Setan membisiki… “aku tidak pantas untuk dikhianati !”
Terjadilah perang batin itu. Perang untuk mempertahankan prinsip diri, atau berubah untuk sebuah pembalasan dendam, yang mungkin bisa untuk sekedar menyembuhkan kekecewaan hati.
……….
Bergulat…
Berdebat…
Dan aku kalah..
………..
Semuanya telah terbalas persis seperti apa aku merasa dilukai. Tuntas, bahkan dengan porsi ganda plus embel-embel yang aku tambahi sendiri. Pembalasan yang aku lalukan dengan membuang semua kenangan dan perasaan bersalah yang masih berusaha mencegah dan menghalangi.
Dan, apakah aku telah merasa impas ?? apakah hati ku telah sembuh dan lukanya telah kering? Apakah hatiku telah puas dengan segala pembalasan yang telah aku lakukan ??
Aku tidak tahu. Sepertinya hatiku masih sama rapuhnya. Masih sakit jika disenggol kenangan tentang pengkhianatan itu. yang berubah adalah, telinga ku tidak pernah absen mendengar suara tawa setan yang terbahak-bahak, yang tertawa dengan puas, karena dia merasa telah menjadi pemenangnya………..,,!!
Sop Ceker di Surga….
Havi, anak pertamaku, sangat suka membaca, penasaran dengan hal-hal yang belum dia mengerti, punya keingintahuan yang tinggi, cerdas, tetapi paling tidak suka jajan apalagi ngemil.
berbeda dengan adiknya Zora. Zora tidak suka membaca (belum bisa membaca sebenarnya, tapi tidak tertarik sama sekali dengan buku), hobi berdandan, senang berteman, Cerdas juga, dan untuk masalah jajan dan ngemil, dia nomer satu. untuk menu makananpun, Zora punya banyak menu favorit. dan yang paling dia suka adalah, menu sop ceker ayam yang direbus dengan wortel dan daun bawang.
seperti siang itu, disaat aku dan Havi sedang diskusi, Zora sedang menikmati menu makan siangnya. sop ceker ayam. Havi saat itu bertanya kepadaku : apa itu surga ? dan apa itu neraka ?
hmm, pertanyaan sulit untukku, karena harus menjelaskannya kepada anak umur enam tahun. tapi dengan panduan buku ” Pendidikan Agama Islam ” untuk kelas satu sekolah dasar, aku mencoba menjelaskan kepadanya.
dengan referensi dari buku itu, aku menjelaskan, bahwa neraka itu adalah tempat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang yang tidak beriman dan bertaqwa kepada allah. di neraka itu juga nantinya semua perbuatan jahat kita didunia akan mendapat balasannya.
sedangkan surga adalah tempat yang juga telah dijanjikan Allah khusus untuk orang-orang yang beriman kepada allah, dan mengerjakan amalan shaleh.
..di surga terdapat sungai-sungai yang dialiri susu dan madu…
“aku doyan susu dan madu..!!” sela Zora
..di surga terdapat beraneka buah-buahan yang manis…
“aku doyan buah…!! kembali Zora menyeletuk
..di surga nanti, apapun yang kita inginkan akan tersedia…
“apa pu Ma..??” kali ini Havi yang bertanya.
iya, itu sudah janji Allah jelasku.
dan sekali lagi dengan mulut penuh nasi dan ceker ayam zora menyela..
” Ma, tapi di surga ada sop ceker juga gaa…??”
Indovision Vs Astro Vs Aora TV
masalah mulai ada, semenjak Astro memperoleh hak monopoli penyiaran Liga Inggris. suamiku dengan ganasnya memarahi petugas Call Centre Indovision, gara-gara Indovision tidak memberitahukan kepada pelanggannya, masalah hak monopoli penyiaran Liga Inggris yang dipegang oleh Astro. dan malam itu juga Indovision di “terminated” oleh suamiku secara sepihak. tanpa meminta pendapatku, apalagi pendapat anak-anak.
aku masih bisa sabar.
suamiku langsung menghubungi teman main tenisnya yang kebetulan seorang “petinggi” di Astro. dan simsalabiim..!! besok subuh-subuh petugas Astro sudah datang menenteng parabola mungil dan memasangkannya persis disebelah parabola mungil Indovision.
dan tanpa harus melewati antrian, pagi itu juga siaran Astro sudah bisa dinikmati dirumahku. Suamiku tersenyum puas. Anak-anak juga senang, karena tidak bermasalah dengan channel kartunnya. tinggal aku yang kehilangan channel kesayanganku. Good Bye, my dearest channel, AFC…!!
iseng-iseng aku bertanya ke suamiku : ” Pap, Parabola Indovision kapan mau diambil ??”. suamiku dengan santainya menjawab : “gak usah dipikirin mam, terserah petugasnya aja kapan mau diambil “.
aku masih bisa tetap bersabar, walaupun dalam hati kecilku aku merasa itu mempengaruhi estetika keindahan pemandangan tembok belakang rumah.
but,…what can I say..?? suami dan anak-anak senang, aku bisa apa lagi kalau tidak ikutan senang ??
untungnya, 2 minggu kamudian petugas Indovisionnya datang membereskan property mereka. dan masalah estetika tembok belakang pun terselesaikan.
dan, apakah masalahku selesai sampai disitu..?? yup..!! jawabnya tidak…!!
masalah keduanya adalah, Astro tidak menayangkan Liga Champion, karena hak siarnya dipegang oleh Indovision.
suamiku kebakaran jenggot lagi. Liga Inggris masih berjalan, sementara Liga Champion akan ditayangkan. dengan bermanis-manis dia membujukku untuk kembali berlangganan Indovision. Berlangganan Indovision, plus Astro maksudnya.
aku merasa itu sangat berlebihan sebenarnya. biarpun dikata aku masih bisa menghandle penambahan TV langganan, tapi berlangganan 2 TV kabel sekaligus, tetap merupakan pemborosan untukku.
tapi sekali lagi aku mengalah, dan meluluskan permintaan suamiku. jadilah ada dua parabola mungil bertengger di tembok belakang rumahku. mengganggu estetika memang, tetapi setidaknya channel AFC ku kembali. aku anggap saja itu sebuah kompromi.
tenang dengan 2 parabola mungil ditembok belakang, cuma bisa dinikmati sesaat. dengan berakhirnya Liga Inggris season ini, suamiku mulai kebat-kebit menunggu, TV kabel mana yang akan menayangkan Liga Inggris season berikutnya ?? apakah Astro lagi…, atau Indovision ?? dan jawabannya : tidak dua-duanya..!!
Liga Inggris disiarkan oleh AORA TV, sebuah TV kabel baru, yang dengar-dengar adalah pecahan dari Astro. suamiku puyeng. aku deg-deg an menunggu keinginan suamiku berikutnya….
dan…kejadian kembali berulang…
dengan muka memelas suamiku minta ijin untuk berlangganan AORA TV. aku ingin marah sebenarnya, tapi dengan ketus aku bertanya : “Pap, emang kalo gak nonton Liga Inggris, kamu bakalan sakit ya..??”.
dengan memelas suamiku menjawab : “Ya…, gak gitu mam,..Tapi rasanya ada yang kurang kalo gak nonton Liga Inggris..!!”.
dan yang membuat tambah jengkel adalah, AORA TV, mengharuskan aku, sebagai pelanggan barunya untuk membayar dimuka, uang untuk berlangganan selama satu tahun..!!
ck..ck…dengan cuma menawarkan 10 channel, dimana 2 channel TV lokal dan sisanya siaran olahraga, dia berani mematok harga 1.7 juta, dan dibayar dimuka..!!
jengkel banget sebenarnya, tapi demi kesenangan suamiku tercinta, yang sudah bercapek-capek banting-tulang bekerja dari senin sampai jum’at, sepertinya angka sebegitu belum seberapa.
ya, aku harus berpikir dengan pola demikian, untuk menghindari keluarnya makian kata-kata kasar dariku untuk petugas AORA….ha.ha.
dan jadilah tembok belakang rumahku, kedatangan penghuni barunya. tambahan anggota, sebuah parabola mungil lagi, yang sangat jelas dicat ulang, dengan bacaan Astro samar-samar terlihat dilempengannya.
selamat tinggal masalah Estetika pemandangan tembok belakang….
satu pelajaran penting lagi yang bisa aku dapat : ” hidup dengan pasangan, kalau ingin tenang, harus pintar-pintar berkompromi. pola berfikirpun harus disesuaikan dengan keadaan. kalau tidak demikian, mau dibawa kemana hubungan itu…??”.
masalah estetika tembok belakang, jadi tak berarti dibanding masalah kebahagian suami.
sekarang, setiap aku kebelakang, pasti pandanganku akan selalu mengarah pada tiga sekawan parabola-parabola mungil itu. sepintas aku melihat kawanan parabola itu seperti kawanan hewan kurban diwaktu lebaran haji. tinggal menunggu waktu untuk “termination” berikutnya. siapa yang akan diterminasi, tergantung kepada hasil kompetisi para pemiliknya.
Dan baru saja aku mendapati suamiku senyum-senyum bahagia sewaktu mengirimkan SMS di ponselnya. setelah aku baca, ternyata SMS itu dikirimkan kebeberapa teman karibnya. Isinya singkat saja : “Ingin nonton Liga Inggris ?? datang aja kerumah..!!”
Ampuunn…..!!
Obat Pelangsing Paling Mujarab…
terus kalau dijawab : "gak minum obat apa-apa..", yang nanya akan langsung spontan bilang : "bohoong…!! kasih tau dong, minum obat apa ?"
duh, ingin sekali rasanya marah, tapi, sabar…, cukup tersenyum saja, dan cepat-cepat berlalu. yang nanya begitu seharusnya tidak usah ditanggapi. tapi jangan sampai ada teman akrabku yang melontarkan pertanyaan yang sama, bisa kena bentakan galak nanti.
coba berfikir sendiri saja sebenarnya, apa iya ada obat yang begitu ajaibnya, sehingga bisa menggerus lapisan lemak ditubuh dengan sebegitu mudahnya??
kalau memang benar ada, banyak Gym yang bakal tutup mendadak. orang tak perlu lagi susah payah menguras keringat mereka di gym, cukup telan satu butir obat, dan tara…!! lingkar pinggang langsung akan berkurang 2 cm.
pernah pada satu hari, aku dihadapkan dengan pertanyaan yang sama : "Tetra kurusan, diet, apa minum obat ?"
dengan serius aku menjawab : " gak diet, gak minum obat, cuma lagi banyak pikiran dan tertekan. alias makan hati.."
dan tau jawaban mereka apa ? : "ah…bohong banget !!, orang seperti Tetra mau mikirin apa lagi ??"
aku cuma bisa tersenyum kecut dan berlalu.
lucunya mereka, diberi jawaban yang aktual dan benar-benar, aku dikatakan berbohong. mereka menginginkan jawaban yang mereka hendaki. mereka ingin aku menjawab :" ya, gue minum obat pelangsing, kalian mau coba..??"
andai mereka menyadari kalo obat pelangsing paling mujarab, ya itu tadi. makan hati. makan hati dalam artian tertekan dan banyak pikiran tentunya, bukan makan hati beneran seperti makan gulai hati sapi.
kalau tertekan, kita tidak akan berselera makan. laparpun tidak akan berani dekat-dekat. apalagi ditambah banyaknya urusan yang harus dipikirkan sendiri. jangankan makan, untuk sekedar ke kamar kecil untuk pipis pun malas.
dan lagi mana ada manusia yang tidak punya masalah untuk difikirkan ?. lancang banget mereka bilang : "orang seperti Tetra mau memikirkan apa lagi.. ??"
ya, banyak dong yang harus dipikirkan. namanya juga orang hidup. orang hidup kalo gak mikir, berarti kebo. dan jangan juga lancang berfikir kalo kebo gak mikir, barangkali aja ada kebo yang lagi tertekan seperti aku. banyak pikiran. pernah lihat juga kan ada kebo yang kurus ?.
jadi kesimpulannya, kalau kalian mau kurus seperti aku. tertekan lah. banyak-bayaklah berfikir yang mumet-mumet, dijamin nanti akan kurus. tidak perlu lagi menanyakan obat apa yang paling mujarab untuk menguruskan badan, karena pertanyaan kalian itu sangat membosankan…!!
Dim Sum dan teh China
ritual ku saat menyantap dim sum, selalu disertai minuman teh china, yang diseduh di teko porselin agar terjaga temperaturnya. pesanan dim sum nya pun, selalu tidak berubah : Bapao ayam, siomay, bakso bening, lumpia sayuran, dan dua menu paling favorit terakhir adalah Tan Tart dan kue isi jagung manis. hmm..
menyantap dim sum kemarin, secara tidak sadar mengetuk kesadaran hatiku. kenyataan sepele yang bisa mengubah drastis segala keadaan yang mengganjal hatiku selama ini. "kenapa aku tidak bisa seperti menu dim sum yang aku santap ini?". terserah mau memilih peran yang mana. mau jadi dim sumnya atau teh chinanya, itu bukan permasalahan inti, tapi faktor saling melengkapi antara keduanya yang paling penting untuk dikaji.
manis legitnya Tan Tart, akan dinetralisir dengan rasa pahit teh china dengan aroma melati.
pedas Bapao ayam dilidah, akan diredakan dengan satu tegukan hangat teh yang aromanya bisa menenteramkan.
perpaduan keduanya yang menimbulkan sensasi puas,hangat,serta rasa kenyang yang merupakan inti penyantapan.
ya, kenapa aku tidak bisa seperti menu dim sum favoritku ??
selama ini aku terlalu sibuk menghitung recehan koin ketidakpuasan dan ketidakberuntunganku, sementara, aku melupakan tumpukan deposito kebahagian yang jumlahnya jauh mengalahkan jumlah koin yang sibuk aku hitung dengan keluh kesah.
sepertinya aku harus lebih sering lagi mengunjungi restoran dim sum favoritku itu. untuk lebih bisa menikmati hangatnya racikan teh china dengan aroma melati, yang mungkin bisa lebih menghangatkan hatiku, yang selama ini aku pikir telah kehilangan jaket penghangatnya.
itulah pentingnya memberikan waktu untuk diri sendiri, untuk bisa merenung, dan membaca apa yang sebenarnya disampaikan oleh seperangkat menu dim sum dan teh china…
Hakekat Pencarian Cinta….
cinta untuknya pribadi, dalam satu paket bernama pasangan jiwa. cinta yang akan memberikannya status, dalam catatan buku kecil berwarna coklat dan hijau tua.
cinta yang selama ini dipertanyakan keluarga, dan teman sebaya, "kenapa belum bersua..??"
andai dia tau sebenarnya hakekat cinta, dia tak kan kemana-mana mencarinya. cinta seperti paket yang diminta, akan datang dengan sendirinya. tanpa aba-aba, dan tanpa suara. datang disaat yang tak kan terduga. dan disaat itu nanti tiba, hatinya akan bertanya-tanya " apakah memang cinta seperti ini yang dia minta?"
rumus cinta memang tidak ada, atau tak ada orang yang mampu merumuskannya. cinta bulat utuh seperti yang aku punya pun, masih terkadang terasa hampa. itu lah cinta. dia tak bisa digenggam atau dipenjara. cinta juga tidak suka dipelihara. cinta akan berkelana dengan sendirinya. sampai dia merasa penat, dan berhenti disuatu tempat, dan itupun tak kan lama.
cinta akan kembali mengembara, karena begitulah sifat cinta.
dan, untuk temanku yang mendamba cinta,…
jangan terlalu keras mencarinya. cintalah yang akan menemukan tempatnya. karena sedemikian hakekatnya…!!
…untuk teman baikku yang sedang pusing mencari cintanya…
R . I . N . D . U
rasa rindu yang menoreh-noreh hati,
yang membuat perih dan menyesakkan dada ??
Rasa rindu yang bisa membuat tersengal-sengal menangis, karena tau pasti, rindu itu tak bakal terobati..
tak kan pernah lagi aku melihat siluetnya duduk, menekuri al-Quran dipangkuannya..
tak kan pernah lagi ku dengarkan gumaman lembutnya yang menenteramkan hati, dikala mengaji..
tak kan pernah lagi aku mendengar getar parau suaranya, memanggil dan menasehati..
tak kan pernah lagi aku merasakan lembut tangan keriputnya yang selalu hangat kala digenggam..
tak kan pernah lagi aku bisa mencium pipi kisutnya, sekedar mengungkapkan sayang..
bahkan, untuk sekedar melihat wajah dan senyumnya, aku tak kan pernah bisa lagi..
kenyataan itu yang sering membuat aku menangis tergugu..
sedih merana, sampai rasanya hatiku luka-luka..
aku ingin anak-anakku nanti, mengenang diriku, seperti aku mengenang Amak.
dengan kenangan sayang, kenangan sarat dengan memori kehangatan.
kenangan yang bisa mengharu-biru, dan membuat rindu tergugu..
tugas berat untuk ku…
Ketika Cinta sudah Tak Terlalu
Panggilan sayang terucap hanya karena kebiasaan,
melayani hanya karena kewajiban,
ciuman dikening menjadi tawar tanpa rasa,
Menelepon tak lagi karena rindu, hanya sekedar basa-basi,
Obrolan menjadi mengambang tak berisi,
Sabtu-Minggu tak lagi menjadi hari yang dinanti-nanti,
Kebersamaan hanya berupa peran yang harus dilakoni,
Kalau cinta sudah tak terlalu…
Satu gambaran melintas di kepala,
Bayangan sebuah tomat segar yang telah dipetik dari tangkainya,
Tinggal menunggu waktu,
menjadi kering,
kisut,
dan busuk tak termanfaatkan,
Betapa sia-sia….
Betapa sia-sia melakoni hidup yang cintanya sudah tak terlalu.
Seandainya aku Bisa,……….
Polos, lugu, ceria, tanpa beban.
menjadi anak kecil, akan membuat segala tindakan yang dilakukan tanpa bahasan. karena dikepala orang dewasa, memang begitulah polah anak kecil.
mereka bisa memberengut tanpa harus memikirkan apa pikiran orang yang melihatnya sedang memberengut.
mereka bisa menghentak-hentakan kaki dengan geram, tanpa peduli dengan reaksi orang disekelilingnya.
mereka bisa marah-marah, berteriak, tanpa harus menahan emosi dan suara, biar marahnya tidak diketahui orang lain
mereka bisa membanting pintu sekencang-kencangnya, masa bodoh dengan pikiran orang rumah yang mendengarnya.
mereka bisa menangis sejadi-jadinya, tanpa harus khawatir mata menjadi merah dan bengkak, dan dipertanyakan orang.
menjadi orang dewasa, sungguh sangat berat,…….
tidak bisa seenaknya memberengut, karena khawatir nanti mertua
bertanya-tanya "ada apa dengan Tetra ?"
tidak bisa seenaknya menghentakan kaki, karena malu kalau nanti ada yang kebetulan melihat.
tidak bisa seenaknya marah dan berteriak sekencang-kencangnya, karena khawatir nanti Havi dan Zora akan bertanya-tanya "ada apa dengan Mama?"
tidak bisa seenaknya membanting pintu dengan jengkel, karena khawatir nanti para pembantu akan bertanya-tanya "ada apa dengan Ibu?"
tidak bisa seenaknya menangis meraung-raung sejadi-jadinya, karena khawatir nanti mata menjadi merah dan bengkak dan semua orang akan bertanya-tanya "Tetra punya masalah apa sebenarnya ?"
hmm,…
mungkin karena banyak faktor tadi, banyak orang dewasa yang menjadi stress dan tertekan, serta mencari pelarian untuk pelepasan ganjalan di dada mereka.
tetapi untukku, aku tidak akan berlari kemana-mana…
aku akan berhayal saja, seandainya saja aku bisa…………
Allah,…beri kemudahan jalan pulang untuknya…
betapa aku sangat bodoh…..!!
kalau aku boleh tertawa, aku akan terpingkal-pingkal sampai sakit perut, berguling-guling menertawakan kamu.
kalau aku boleh mencibir, aku akan mendowerkan bibirku sedower-dowernya bibirku sanggup untuk dower, untuk mencelamu.
kalau aku boleh, aku akan menggoyangkan jari menirukan rambut keriting untuk mengungkapkan " kasiaaaaan……!!" untuk kamu
kalau saja aku bisa tiba-tiba muncul dihadapanmu, aku akan menyeringai lebar dan berkata " kena batunya kamu sekarang ??"
mana keyakinan yang selama ini kamu usung ??
kemana perginya rasa percaya diri yang sangat kuat memancar dimukamu, sampai menyilaukan mata orang yang memandang ??
mana senyum pongahmu, yang selalu kau berikan kepada orang-orang yang bertangisan mencurahkan isi hatinya kepadamu ??
kemana perginya kerlingan mata yang selalu kau berikan pada ku ??
kemana ??
seharusnya kamu berpikir Tetra,…
tak akan ada yang sempurna didunia ini. tidak kamu, tidak juga dia.
yang harus kamu lakukan adalah bersujud dengan khusu’. meminta ampunan kepada Allah, atas segala rasa yang bertengger pongah dihatimu selama ini.
kalau kamu berfikir ini adalah teguran, kamu salah…
ini semua adalah hukuman.
teguran-teguran Allah sudah banyak yang kamu abaikan selama ini. Allah telah bosan menegurmu.
kini saatnya dia memberimu hukuman.
bersyukurlah Tetra,….
Allah memberimu hukuman ringan. jangan kamu terlalu tersedu.
hapus air matamu, berwudhu’, kuatkan hatimu untuk menghadapNya. tumpahkan segala duka-lara hatimu hanya kepadaNya. cuma Dia tempat kamu bisa mengadu, mohon ampun dan berserah diri.
sudahlah,
tak ada gunanya aku mencibir-cibir dihadapan kamu. badan ku sudah basah kuyup,berkeringat karena berguling-guling menertawakan kamu. sekarang aku jadi jatuh kasihan kepada kamu.
semoga kamu bisa menjadikan ini semua pelajaran.
ambil hikmahnya, buang rasa pahitnya.
aku mau permisi dulu.
aku akan datang lagi nanti, disaat kamu sudah tidak butuh aku.
aku akan datang, walau kamu tak pernah tau….
Kalau “Super Mom” harus Opname
Setelah masuk kamar perawatan, sendiri, dengan kepala yang masih nyut-nyut hebat dan demam tinggi, aku berusaha untuk mengkoordinir keadaan. Hape langsung terasa mamfaatnya disaat begini. Yang pertama, telpon kerumah, mengabarkan pada kedua asistenku, kalau aku gak bakal pulang 3-4 hari ini, karena harus dirawat. Nanny nya anak-anak langsung kaget, tapi langsung cepat tanggap. Dan masih sempat bilang “ tapi bu, susu Zora habis, yang biasa ngantar susu belum telepon “ duh, masalah susu nambah kepala ku nyut-nyut. Yang kedua, telpon ibu gurunya Havi. Mengabarkan kalau Havi mungkin tidak dapat masuk sekolah beberapa hari. Secara supirnya harus opname, gimana bos nya mau masuk sekolah coba ??. yang ketiga, dan dengan sisa tenaga dan kekuatan, menelpon kakak-kakakku. Ini penting. Kalau sempat lupa mengabari, bisa kena semprot nanti. Beres telepon-telepon, kepalaku makin berat, demamku makin tinggi, pipiku terasa membara.
Setelah diukur suhu dan pasangi infus yang berisi antibiotik dan obat turun panas, aku baru agak mendingan. Tadinya suhu badanku mencapai 39.5 °C. Diagnosa sementara. Gejala Tifus. Ah,..kalau yang satu ini emang langganan waktu kost di Bandung dulu. Empat tahun kost, 3 kali dapat gejala Tifus. Rekor. Kalau MURI tau, mungkin rekor ku akan dicatat. Demam turun bukan berarti kondisiku lebih enakan. Serangan batuk kering yang menekan dadaku terasa sangat menyiksa dan melelahkan. Masih jam satu siang, anak-anak sudah makan belum ya ??.
Hari ini suamiku berjanji akan pulang cepat dari kantor. Untuk mengecek anak-anak, dan menemaniku. Dimeja sebelah tempat tidurku sudah tersedia menu makan siang yang terlihat lumayan. Tersaji rapi diatas sebuah nampan. Tetapi setelah didekati, ternyata sepiring bubur nasi, sayur super bening, ayam bumbu kuning, tahu kecap, sepiring buah-buahan dan segelas air mineral. Demi melihat menu berupa bubur nasi, nafsu makanku langsung drop, tapi mengingat aku harus cepat sembuh demi anak-anakku, aku paksakan menyuap bubur pelan-pelan. Tidak ada rasanya. Cenderung pahit malah. Rupanya hantaman antibiotik dosis tinggi, telah menebalkan syaraf-syaraf perasa lidah ku. apa mau dikata ? makan harus habis. Biar bertenaga dan cepat pulih.
Setelah memaksakan makan menu yang memuakkan tadi, perasaanku bukannya bertambah baik, malah makin merana. Ada satu kesimpulan diotakku. Masuk rumah sakit yang menyenangkan Cuma masuk rumah sakit untuk proses persalinan. Biarpun proses persalinan itu sendiri, merupakan suatu drama horor yang penuh perjuangan dan rasa sakit, tapi setelahnya, lega. Nafsu makanpun meningkat. Ditambah pula menu makanan rumah sakit yang tinggi gizi dan padat kalori, untuk memacu produksi ASI. Sangat berbeda dengan menu orang sakit seperti sekarang. Aku jadi merindukan rasa sate Padang.
Sore-sore suamiku datang. Dari kantor dia langsung kerumah sakit. Sekedar melihat dan memastikan kondisiku tidak mengkhawatirkan, dia langsung pulang kerumah untuk melihat kondisi anak-anak, dan berjanji akan kembali setelah magrib untuk menemaniku. Kentara sekali rasa khawatir campur cemas dimukanya. Kalau super mom, sudah harus diopname dirumah sakit, dia bisa mengandalkan siapa lagi ?. habis magrib suamiku datang lagi. Karena mungkin kecapek-an, jam setengah delapan dia sudah tertidur mendengkur di sofa bed.
Jam delapan tepat kakak ku yang sulung datang bersama amak, nenekku tercinta. Kakakku datang membawakan jus buah kurma, dan ribut mendiagnosa kalau sebenarnya penyakitku ini bukan gejala tifus, tetapi demam berdarah. Super canggih. Lulusan fakultas ekonomi ini bisa lebih pintarnya dari dokter mendiagnosa penyakit. Demi menyenangkan hatinya dan menghargai usahanya membuatkan jus buah kurma untukku, aku minum saja jus buah kurma tersebut sampai habis, Sampai keluar suara srot-srot dari sedotan, pertanda tidak ada lagi cairan yang tertinggal digelas. Ternyata rasanya lumayan juga. Yang lucunya, waktu gelasku sudah kosong, kakakku buru-buru mengambil gelasnya dan memcucinya sampai bersih. Kenapa sih ? tanya ku. biar nanti perawatnya tidak banyak tanya dan banyak komentar katanya. Ha ha. Kurang pe-de juga ternyata dia dengan diagnosanya.
Jam 9.15 malam kakakku dan amak pamit pulang. Demamku mulai meninggi lagi. Aku paggil suster untuk mengukur suhu badanku, agar diberi obat penurun panas. Peraturan dari dokternya, kalau suhu tubuhku sudah melebihi 39°C, baru obat turun panasnya akan ditambahkan. Tapi termometer si suster Cuma mencatat 38.7°C. aduh, cuma beda-beda tipis begitu akan pengaruh ?. coba kalau si suster disuruh untuk tidur dengan panas badan yang membuat pipi terasa terbakar, apa dia bisa ?. tapi suster muda itu tetap dengan pendiriannya, Mematuhi peraturan dokter. Tidak ada obat turun panas untukku.
Karena jengkel, lima menit berikutnya aku pencet lagi bel untuk memanggil suster. Yang datang suster yang berbeda sekarang. Aku minta lagi dia periksa suhu tubuhku. Hasilnya ? 38.9°C !!. dengan pandangan memelas aku minta lagi dia memeriksa ulang suhu tubuhku. Dan akhirnya, termometer itu menunjukkan angka 39.1°C. Finally..!. dengan tersenyum simpul, si suster menyuntikkan obat turun panas untukku melalui selang infus. Selang 15 menit, efek obatnya mulai bekerja, dan mulai membuatku merasa nyaman dengan suhu tubuh yang mulai turun. Bisa tidur juga aku akhirnya.
Pagi-pagi sekali sebelum sholat subuh, suamiku membangunkan. Dia minta izin pulang, sengaja dia pulang subuh-subuh agar tiba dirumah sebelum anak-anak bangun, biar mereka tidak begitu kehilangan.betapa repotnya.
Siang-siang sendirian di rumah sakit, aku jadi banyak berfikir. Pikirannya macam-macam.dari yang ringan-ringan sampai ke arah yang agak menakutkan. Sempat terlintas diotakku satu pertanyaan yang agak-agak seram, bagaimana kalau semisalnya aku tidak diberi umur panjang ?. pikiran selintas itu membuat aku merinding. Merinding memikirkan bahwa bekal yang akan ku bawa menghadap sang pencipta yang masih belum seberapa, juga merinding memikirkan bagaimana dengan anak-anak ku ? bagaimana Havi menjalani rutinitasnya nanti tanpa aku yang biasanya selalu menemani? apakah Zora akan merasa kehilangan aku, orang yang selalu ada untuknya untuk tempat dia bermanja-manja? Apakah suamiku bisa mengatasi semua yang berkaitan dengan anak-anak nanti? Sementara untuk urusan tetek bengek seperti kartu ATM pun, tak satu pun dia tau kombinasi angka PIN nya ? wah, gawat !
Pikiran gila tadi, secara tidak langsung memacu semangatku untuk segera menuntaskan segala urusanku dengan rumah sakit. Perasaan melankolis yang sering datang, aku tepis jauh-jauh. Menu makan siang yang memuakkan pun, tak terlalu jadi masalah sekarang. Biar cepat segar lagi, apapun menu yang disodorkan akan aku sikat. Jam satu siang dokter datang untuk memeriksa kondisiku. Setelah dia berbasa-basi dengan stateskopnya, aku langsung bilang kalau aku sudah mendingan, dan minta di izinkan untuk pulang besok hari. “Kita liat sampai sore ini”, janjinya padaku.
Ternyata obat paling mujarab untuk seorang ibu dengan dua anak, Cuma satu, yaitu anak-anaknya. Cuma dengan memikirkan kemungkinan terburuk dampak untuk mereka, bisa mengalahkan pengaruh antibiotik yang paling canggih sekalipun. Secara ajaib panas tinggiku hilang. Makanpun biar tidak ada rasanya, tapi lahap. Segala susu, juice, pil dan tablet aku sikat. Sorenya selang infusku sudah dicabut. Aku tegaskan sekali lagi ke suster yang memeriksa, kalau aku mau pulang, besok. Malamnya suamiku datang menemaniku, aku sudah sehat. Aku sudah bisa berebutan channel TV. Aku bilang padanya kalau besok aku sudah bisa pulang. Dia langsung sibuk mengatur jadwal supir untuk menjemputku, tapi aku bilang, cukup tinggalkan saja mobil, dan aku akan pulang besok, menyetir sendiri, tidak udah diantar-antar supir. Bukannya belagak perkasa, tapi jarak antara rumah sakit dan rumahku Cuma enam menit menyetir. Alangkah sia-sianya supir datang jauh-jauh dari jalan Sudirman, Jakarta, untuk mengantarkan aku kerumah yang jaraknya Cuma enam menit. Jadi, besoknya setelah segala urusan administrasi rumah sakit selesai, aku pulang. Aku keluar dari rumah sakit, dengan rutinitas yang sama persis dengan saat ketika aku datang ke rumah sakit untuk di rawat. Isi-isi form sendiri, beres-beres kamar sendiri, dan pulang pun menyetir mobil sendiri. Tapi sekarang tidak ada secuilpun perasaan melankolis dihatiku. Yang ada perasaan bahagia karena akan segera bertemu dengan obat super mujarabku, yang sudah sangat rindu menungguku pulang kerumah.