Tetra-punya-cerita

Senin, 03 Agustus 2009

Pokoknya gak mau kalo jadi kayak kelabang...

Sudah hampir satu tahun ini suamiku begitu konsisten menjaga postur tubuhnya. Body nya yang biasa tambun berisi, sekarang telah berubah menjadi semampai, tanpa digayuti lemak di sana-sini. Bayangkan saja, bobotnya yang dulu mencapai 84 kg, sekarang telah mengecil menjadi 69 kg. Bobot badan 69 kg berbanding dengan tinggi badan 171 cm, benar-benar proporsional. Lemak menyingkir, digantikan oleh otot. Banyak yang tercengang melihat perubahan pada suamiku, tetangga dan teman-teman dekat di kompleks diam-diam bertanya dengan sopan, seperti ini “mbak Tetra, mas Harry abis sakit ya? Kok jadi kurus begitu..?“
Teman-teman satu kantor suamiku pun bertanya-tanya. Dari pertanyaan yang sopan seperti “waah..lu berubah banget, rahasianya apa nih..?“, sampai pernyataan berbau menuduh yang menjengkelkan seperti “Perut lu rata sekarang, lu sedot lemak ya ?“ maka dengan sabarnya suamiku akan menjawab seperti ini “pokoknya, rahasia nya rajin olah raga dan jaga makan..!!“.

Ya, memang tidak ada yang dimanipulasi dengan perubahan bobot suamiku. Semuanya berkat usahanya yang kencang olah raga di Gym dari Senin sampai Jumat, Tenis Sabtu dan Minggu, dan yang paling hit, dia ketat menjaga asupan makanannya. Dibandingkan dengan dulu, dia tidak akan berfikir panjang untuk melahap dua porsi mie goreng instan plus telur ceplok untuk sarapan, sekarang dia menggantinya dengan setangkup roti gandum plus selai dan sebutir apel. pesanan dua porsi sekaligus sate padang dan nasi goreng kambing porsi jumbo untuk makan siang, digantikan dengan nasi beras merah porsi kecil dengan dua potong ayam bakar plus sayuran. Selanjutnya dia selalu skip makan malam. Mencengangkan keteguhan niatnya dalam mengatur asupan makanan.

Padahal dulu alangkah susahnya aku merayu-rayu dia untuk menurunkan bobotnya sekedar untuk alasan kesehatan. Setiap hasil medical check up nya keluar dengan hasil yang menunjukan kolesterol tinggi, aku akan selalu mewanti-wanti dia untuk berusaha merubah pola makan. Tapi dia bergeming.
Seingatku, dulu aku pernah membandingkan dia dengan Anjasmara dan Fery Salim. Dulu aku selalu menyindir perutnya yang buncit. “ kamu contoh dong Pap, Anjasmara atau Fery Salim.., mereka biar sudah berumur, tapi perutnya masih rata..!” dan dengan cueknya suamiku menjawab begini “ meraka kan artis Mam, itu modal meraka berperut rata, aku kan bukan artis..!” kalau sudah menjawab begitu biasanya aku akan menjadi jengkel, dan tidak berusaha lagi menyuruhnya menurunkan bobot.

Titik balik perubahan pola hidup suamiku, ternyata dipacu oleh hal yang sangat sederhana. Masalah simpel saja. Ketika berniat membeli jins, bahkan nomer jins terbesar pun tidak cukup melekat di perut buncitnya. Dari sana dia mulai frustasi. Dan setiap sindiran dari ku merupakan pecut pemicu semangatnya. “ umur segini aja udah gak ada jins yang muat, gimana kalau nanti kamu udah opa-opa ya Pap..?” hahaha umpan sudah mengena. Tinggal bagaimana tarik ulur pancingnya biar target tertangkap.

Dan dimulai lah hari-hari disiplin semenjak itu. Untuk makan siang suamiku selalu meminta dibekali dari rumah, agar menu sehat sempurnanya terjaga. Di Gym pun dia mulai membuat catatan progress yang grafiknya meningkat. Dan satu hari sepulang dari travel, suamiku membawa pulang majalah body builder. Isinya gambar-gambar lelaki berbadan kekar, dengan tonjolan otot dimana-mana, berperut tidak Cuma rata, tapi serupa cetakan-cetakan empat persegi yang sama rata masing-masing tiga cetakan disetiap sisinya. Six pack istilah kerennya. Setiap lembar majalah ada penjelasan latihan yang harus diikuti, work out 1 – work out 4, begitu seterusnya.
Aku jadi meringis. Dari dulu aku tidak pernah menyukai lelaki berotot serupa itu. Untuk mataku, mereka seperti kelabang. Berkotak-kotak persegi. Tidak ada bagusnya. Tidak indah sama sekali. Maaf Ade Ray, bukan bermaksud mencela, tapi ini masalah selera.

Dan aku pun protes. Aku tidak sudi suamiku nanti menjelma menjadi manusia kelabang. Tidak rela sama sekali kalau nanti tubuhnya yang biasa empuk aku peluk, menjadi liat berotot dan berkotak-kotak.. Suamiku terkekeh-kekeh saja menanggapi protes sengitku. “ jangan khawatir Mam, gak bakal aku bisa kayak kelabang seperti meraka, aku Cuma mau meniru latihan untuk perut saja, biar lemak yang sudah menahun diperutku, setidaknya bisa sedikit berubah menjadi otot.”
Jadilah setiap sore suamiku akan memelototi majalah sambil meniru excercise yang disarankan disana. So far, belum ada indikasi postur suamiku akan berubah menyerupai kelabang. Setelah aku baca pun, ternyata dibutuhkan suplement khusus yang akan memicu pembentukan tonjolan-tonjolan otot dibagian tubuh yang di inginkan. Minimal target untuk hidup sehat, telah berhasil dicapai suamiku, tapi dengan syarat mutlak dariku, tidak mau kalo jadinya seperti kelabang...
posted by tetra at 00.47 0 comments