Tetra-punya-cerita

Minggu, 30 November 2008

dan, pengemis itu pun melengos membuang muka....

Sudah tiga hari ini cuaca berlaku sangat menjengkelkan. Pagi-pagi diawali dengan cerahnya matahari, yang membuat mood juga ikut cerah, tetapi kalau sudah agak siang sedikit, cahayanya akan makin garang dan memanggang. Gerah dan sumuk. Tapi secara tiba-tiba dengan cueknya cuaca akan berubah gaya dengan menghadirkan mendung gelap dan dilanjutkan dengan hujan deras disertai sambaran petir. Benar-benar tidak bisa diprediksi apa maunya sang cuaca ini. Seperti siang ini, aku dengan malasnya berangkat menjemput Havi, karena cuaca sangat panas. Matahari sangat terik menyegat. Kalau siang begini biasanya lalu-lintas jalan biasanya tidak terlalu padat. Untuk mendapatkan U-turn terdekat, maka begitu keluar dari gerbang kompleks, aku harus bisa dengan cerdik langsung mengambil jalur kanan jalan. Dan itu tidak gampang, karena jarang ada yang mau mengalah sekedar untuk memberi peluang aku memperoleh jalur kanan jalan. Kalau sudah begitu biasanya aku akan membuka kaca mobilku lebar-lebar, sekedar memberi tahukan bahwa : “ hallo, you guys..,I’am a women here..., please give me a priority..!!
Dan cara ini biasanya berhasil. Masalah Gender masih dipertimbangkan disini. kalau aku sudah mendapatkan sisi kanan jalan, maka biasanya aku akan mengantri sekitar 2-3 mobil untuk menunggu kesempatanku berbalik arah. Dan di lokasi U-turn ini, akan selalu ada tiga orang ibu-ibu pengemis dengan formasi yang tidak pernah berubah. Yang paling ujung ibu kurus dengan balitanya, disebelahnya ada ibu tua renta, serta yang terakhir seorang ibu yang sangat tambun badannya. Mereka selalu diposisi yang sama setiap hari. Tidak pernah bertukar tempat. Tiap hari aku melewati mereka, tetapi aku jarang sekali memberi mereka uang. Bukan karena pelit atau tidak peduli, tapi semata-mata karena aku selalu kerepotan dengan proses mengambil jalur kanan jalan, sehingga aku tidak sempat untuk sekedar merogoh tas dan mencari-cari dompet untuk mengambil uang untuk mereka. Seingatku, aku pernah memberi mereka uang, karena memang kebetulan ada uang sisa parkir di laci mobilku. Dan itu tidak banyak, hanya lembar uang ribuan. Setiap melewati jejeran ibu-ibu pengemis itu, aku akan selalu melirik balita yang selalu ada disana. Gelisah menangis karena terpanggang matahari. Kurus berkulit hitam. Dekil serta ingusan. Sungguh memilukan.
Aku pernah menyaksikan sendiri pemandangan, dimana ibu-ibu pengemis itu diturunkan dari sebuah mobil bak terbuka oleh “koordinator” mereka, Seorang pemuda dengan tampilan keren dan bermuka datar tanpa emosi. Ketika menyaksikan pemandangan itu, aku jengkel setengah mati. Teganya orang mencari rezeki dengan mengorbankan orang miskin dan balita melarat...
Tapi nenekku tersayang dulu pernah berpesan bahwa :

“kalau bertemu dengan pengemis, maka berilah mereka berapa saja rezeki seikhlas kamu, jangan memikirkan hal lain selain ikhlas...”

*

Siang itu, menjemput Havi pada jam 12.30 WIB, dengan cuaca yang sangat panas dan sumuk, adalah pekerjaan yang berat. Selain harus mengatasi rasa kantuk, gerah dan malas, ditambah lagi dengan PMS ( sindrom pra menstruasi ) yang membuat aku cepat sekali meledak marah. Suami dan anak-anakku sudah sangat hapal dengan ritual PMS ini, sehingga mereka selalu jaga sikap dan tidak berani cari perkara. Menghindar untuk cari aman. Keluar gerbang kompleks pun aku dengan nekat memotong jalan mobil lain dengan kurang ajarnya, sehingga jalanan aku buat macet. Aku tidak peduli. Mau marah-marah?? Silakan saja, tidak ada yang melarang. Dan kembali aku mendapati pemandangan jejeran ibu-ibu pengemis seperti kemarin. Balita si ibu yang paling ujung, menggelinjang, meronta-ronta menangis dipangkuan “ibu”nya. Hatiku panas melihat pemandangan itu. Emosiku sampai diubun-ubun rasanya. Tega sekali dia menjemur anak”nya” dibawah panggangan matahari langsung seperti itu. Dan aku pun langsung kerepotan merogoh tas, mencari dompet untuk mengambil selembar uang. Sampai didekat ibu itu aku membuka kaca mobil dan berkata :

“bu..!!, apa tidak kasihan sama anaknya ?? kenapa harus bawa-bawa anak segala..??”

dan aku melemparkan selembar uang dengan gemasnya kedalam kotak si ibu itu. Dua puluh ribu rupiah.
Si ibu pengemis terpana, dan aku kaget sendiri dengan nada suaraku yang secara tidak aku rencanakan naik dua oktaf dari nada yang aku perkirakan. Aku telah membentak pengemis itu...

Tiba-tiba aku dilingkupi perasaan senyap. Senyap dihatiku, senyap dipikiranku. Astagfirullah hal adzimm...

Perasaan bersalah diam-diam memenuhi ruang hatiku. Siapa aku, sampai berani-beraninya membentak dan memarahi seorang pengemis ?? aku, seorang manusia yang hina-dina begini, bisa lancangnya memarahi pengemis, dan kemudian melemparkan uang, dan Cuma dua puluh ribu ??

Ya Allah ampunilah umatmu yang tidak tau diri ini...,

Allah saja yang maha segalanya, tidak pernah menegur atau memarahi aku sebelum mencurahkan rezekinya kepadaku. Betapa bayaknya limpahan rezeki yang telah dia berikan, tanpa terlebih dahulu mengingatkan aku dengan segala keburukan dan kekuranganku.

Dan aku menangis di parkiran sekolah Havi. tangisan penyesalan dan malu pada diri sendiri, terlebih, malu kepada Allah. Betapa angkuhnya aku dengan bentakan dan uang dua puluh ribu ku itu.
Hati kecilku mengingatkan bahwa aku harus meminta maaf kepada pengemis itu...

Setelah aku mengantarkan Havi selamat sampai dirumah, aku langsung kembali pergi, dengan tujuan mencari ibu pengemis yang aku bentak tadi. Sudah jam 2 siang, dan jalanan lengang. Aku kembali keluar gerbang kompleks dengan membuka lebar-lebar kaca mobil, biar diberi jalan mengambil posisi kanan jalan. Dan ibu pengemis tadi, masih duduk disana dengan balitanya. Tetapi sekarang dia menutupi seluruh badan anaknya tersebut dengan selendang yang tadi dikenakannya.
Makin mendekati ibu pengemis itu, aku semakin panas dingin. Lambat-lambat aku membuka kaca mobilku, dan perlahan setelah dekat, aku menoleh dan berkata :

“Bu.., saya minta maaf ya, tadi sudah marah-marah....”

kalimat maaf itu aku ucapkan dengan agak terbata. Dua pengemis lain, memandang dan berusaha mencari tahu, ada urusan apa aku dengan si ibu dan balitanya itu. Sementara si ibu yang aku bentak tadi, dengan muka datar langsung melengos membuang muka......

aku berlalu. Aku kembali memutar arah untuk kembali pulang kerumah. Perasaanku datar saja. Dengan melengos dan membuang muka, urusanku dengan pengemis tadi aku anggap selesai. Aku telah berbesar hati untuk datang, dan mengucapkan maaf. Bagaimanapun penerimaan dan tanggapan pengemis itu, itu bukan urusan aku lagi. Yang penting aku telah salah, mengakui kesalahan, dan telah minta maaf. Just it..!!
peristiwa aku dilengosin pengemis ini, sepertinya tidak pernah aku akan lupa sampai mati. Dan aku berjanji nanti akan menceritakan kepada anak-anakku. Dengan versi jenaka tentu saja.mungkin ini yang namanya pelajaran hidup...halaaah..!!
posted by tetra at 22.38 0 comments

Senin, 24 November 2008

Korelasi Sepi dan Bobot Badan

Beberapa bulan terakhir ini, bobot tubuhku merosot tajam. Selain karena habis bulan ramadhan yang notabene berpuasa sebulan penuh, yang kemudian dilanjutkan dengan ritual puasa syawal 6 hari berturt-turut. Membuat bobot tubuhku mengecil mencengangkan, serta membuat iri teman-teman disekolahan.

Ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang bilang lebih oke, tapi seperti Wida yang bobotnya tidak kunjung menyusut setelah melahirkan bayi kembar, 4 tahun lalu, berkomentar agak nyelekit seperti begini :

“Tet, lo jelek amat gak bedaging begitu.., apa laki lo gak ketulangan tuh..?”

hihihi, aku sampai terpingkal-pingkal mendengar komentarnya waktu itu.
Padahal,moment bulan ramadhan dan puasa syawal menurutku tidak merupakan faktor utama pada pengusutan bobot badanku. Beberapa bulan terakhir ini, aku memang malas makan. Pagi biasanya aku skip sarapan. Sarapannya nanti biasanya agak siangan jam 10an, disekolahan Zora, sembari nongkrong di mie ayamnya mbak Linda. Kalau sudah makan mie ayam mbak Linda, maka biasanya aku akan kenyang sampai sore. Dan kalau sore merasa lapar sedikit, biasanya aku malas makan besar, aku lebih memilih makan cemilan atau kalau lagi ada stoknya, aku lebih memilih makan buah2an saja. Bukan karena sok diit dan jaga makan, tapi semata karena aku malas dengan ritual makan besar yang mengharuskan aku berada dimeja makan, sendirian.

Aku mulai agak khawatir dengan bobotku, setelah aku dapati semua celana jins ku sudah tidak nyaman dipakai. Kalau dulu ada perasaan puas dan sedikit bangga melihat posturku dikaca, dengan shape yang pas antara pinggang-bokong-paha, sekarang posturnya menjadi, pinggang longgar, bokong sedikit kempes dan paha yang kecil. Tidak lagi sexy dimataku sendiri
Yang terpikir waktu itu Cuma “sepertinya ku harus membeli celana jins baru...”

Perasaan malas makannya aku akan makin menjadi-jadi, kalau bertepatan dengan jadwal dinas luarnya suamiku keluar negeri. Kalau sudah begitu, maka malas makannya aku pasti dibarengi dengan malas masak. Pembantu dirumah akan aku wanti-wanti dengan pesan “ kalau masak jangan mikirin ibu.., masak aja apa yang kalian suka..”
Pernah suatu hari pembantuku mengingatkan : “ibu sudah empat hari ini tidak makan dirumah, barangkali ibu ingin sesuatu, biar saya buatkan...?”

Aku sendiri heran dengan selera makanku yang sekarang. Kalau dulu ada waktu-waktunya aku sangat ingin makan sesuatu, maka aku akan mencari makanan itu dan aku akan makan dengan sangat lahapnya. Tapi sekarang, sama sekali tidak ada keinginan untuk makan, apapun makanan itu.

Dua minggu lalu mertuaku datang kerumah, dan dengan sangat kaget mengomentari bobot tubuhku. Sekurus lidi, kata mertuaku. Hahaha...

Tetapi, dengan adanya mertua dirumah, sedikit mempenguruhi selera makanku. Pagi-pagi sudah sarapan bersama dimeja makan. Kalau siang biasanya mertua ku yang menentukan menu masakan, dan aku akan menunggu-nunggu jam makan siang untuk bisa bersama-sama makan dimeja makan sambil ngobrol dan biasanya dilanjutkan dengan nonton TV sambil bercerita antara Mertua dan Menantu..
Anehnya, aku sering lapar kalau ada mereka dirumah. Tapi kunjungan mertua biasanya tidak lama-lama. Paling lama 10 hari, dan mereka sudah harus kembali. Dan aku...?? aku kembali dengan perangai malas makanku.

Setelah aku pikir, sepertinya aku kesepian dirumah. Karena sepi, tidak ada teman untuk bercerita dan ngobrol dimeja makan, itu yang membuat aku jadi malas makan. Gawat ya ?? masa setiap jam makan harus ada banyak orang dirumah ?? lagian mau ngundang siapa setiap hari biar rumah jadi ramai ??
Uhm..ada-ada saja alasannya.
posted by tetra at 23.31 0 comments

Rabu, 19 November 2008

Betapa Allah Maha Tau,...

Aku B.O.S.A.N .......

perasaan seperti terperangkap didalam botol kaca yang besar dan sangat lapang, tetapi sendirian.
Bisa membayangkan bagaimana rasanya ? ya itu tadi, sangat amat b.o.s.a.n…

Aku pernah bilang pada suamiku,…
“Pap, aku merasa tidak berarti..!”

Jawab suamiku :
“Masyaallah mam.., kok kamu bisa-bisanya punya pikiran seperti itu? aku dan anak-anak sangat tergantung sama kamu, aku dan anak-anak tidak bisa kalau tidak ada kamu..!“

hmmm..klise..

terus aku berkata : “Tapi aku ingin menjadi “sesuatu“..!!“
jawab suamiku : “sesuatu“ seperti apa yang ada dipikiran mu..??

hmm..sekarang aku yang bingung menjelaskannya...

Semua ini bermula pada saat aku bertemu dengan seorang teman lama. Teman lama yang dahulu pernah sama-sama merasakan pahit-manisnya bergelut di dunia kerja, dunia yang telah aku tinggalkan hampir 8 tahun lamanya.....

Keadaan aku dan dia sekarang sangat berbeda.
Aku dengan statusku sebagai full time house wife, dengan suami beserta dua orang anak, sedang dia masih dengan status lamanya. Wanita lajang dengan karier yang makin meroket...

Ada perasaan “nyes“ di dadaku, ketika bertemu dengannya. Perasaan dihati yang dengan jahatnya berkata..“Coba aku dulu tidak memutuskan untuk berhenti bekerja...“

Dan mulai lah banyak andai-andai lain yang mengganggu hati ku...

“Andai aku bisa mensejalankan karier dengan kehidupan rumah tanggaku..“
..
“Andai saja aku memiliki kesibukan sendiri yang bisa membuatku merasa berarti“..
..
..
..

dan tanpa aku sangka, beberapa hari kemudian, aku ditelpon oleh temanku itu. Dia ingin curhat katanya. Aku nya pada ku, semenjak hari dia bertemu dengan ku, dia selalu membandingkan kehidupan nya dengan kehidupanku.

Betapa beruntungnya aku dimatanya. Punya suami penyayang, yang bisa memenuhi segala kebutuhanku, tanpa aku harus banting-tulang diluar rumah. Punya sepasang anak yang sehat, cerdas dan lucu-lucu, serta punya rumah tangga yang tenang, yang mungkin tidak semua orang bisa memilikinya...

Aku berkaca-kaca...
Aku mengaku padanya, bahwa aku pun pernah punya perasaan yang sama dengannya. Aku pun pernah membandingkan kehidupanku dengan kehidupannya...

Ternyata aku telah menjadi khufur nikmat selama ini. Aku hanya bisa melihat kelebihan orang lain, tanpa mempertimbangkan keberuntungan dan nikmat apa yang telah diberikan Allah untuk ku.

Dan aku kembali teringat obrolanku dengan suamiku pada waktu itu...

“Aku selalu berusaha mengerti kamu mam, karena itu lah aku selalu memendam egoku pribadi, sekedar untuk memberi ruang untuk ego mu. Karena aku tau apa yang kamu maksudkan dengan ingin menjadi sesuatu itu..“

ahh..manusia yang satu ini..
dia selalu bisa mengatasi galau hatiku dengan caranya…
dia tau kapan diperlukan untuk diam, dan tau kapan diperlukan untuk pergi, bahkan tau kapan waktunya untuk memelukku, sekedar untuk menenteramkan hati....
Manusia yang telah dipilihkan tuhan untuk menjadi soul-mate ku.
Manuasia yang akan aku cintai sampai mati, karena tanpa adanya dia dikehidupanku, mungkin aku tak kan pernah bisa merasakan, bagaimana rasanya dicintai dengan sepenuh hati....

* ehmm..yang bersangkutan, dilarang GR !!
posted by tetra at 23.09 1 comments

Senin, 17 November 2008

Kartu Kredit,..IIM JAIM...wuah..mumet..!!

Aku kebingungan pagi tadi. gara-gara di telpon CS BCA yang mengabari bahwa aku belum melunasi tagihan kartu kredit bulan ini, benar-benar membuatku kesal. mana pernah aku telat bayar tagihan kartu kredit ?? aku selalu tepat waktu dalam membayar semua tagihan, mulai dari tagihan kartu kredit, telepon, PAM, listrik, TV kabel, speedy, bayaran sekolah anak-anak, semuanya tidak pernah terlambat. makanya aku tidak terima ditelpon petugas bank dan dituduh belum melunasi tagihan bulan ini. enak saja..!!
Makanya dengan perasaan dongkol, aku membongkar semua isi dompet untuk menemukan bukti pembayaran kartu kredit itu. selembar slip bukti pembayaran lewat ATM BCA. seharusnya ada didompetku. tetapi ternyata tidak aku temukan. semua bukti pembayaran yang lain aku temukan, kecuali bukti pembayaran kartu kredit itu.
hmm..harus ditracking melalui buku tabungan sepertinya...

dan mulai lah aku mencari buku tabungan yang kartu ATM nya selalu aku gunakan untuk membayar semua tagihan yang bajibun itu. dan anehnya, juga tidak berhasil aku temukan.
setelah diingat-ingat, rasanya aku bawa terakhir kali dalam tas tangan, waktu proses ganti buku di bank BCA terdekat. dan pertanyaannya sekarang tas yang mana aku pakai pada saat itu...??

dan aku mengambil bangku kecil, untuk naik dan bisa menjangkau, susunan tas yang aku tata di bagian paling atas lemari. satu demi satu, tas itu aku buka dan periksa bagian dalamnya kalau-kalau ada buku tabungan yang aku cari disana. dan sampai dihitungan tas yang ke dua belas, tetap tidak ada buku tabungan yang aku cari.....

aku kelelahan sendiri. dan mulai sadar betapa banyaknya tas tangan yang aku punya.

yang dilemariku saja ada sekitar 13 buah tas tangan. belum yang dilemari kamar bawah...

ck ck ck...
beraneka macam model dan merk tas, mulai dari yang harga standar sampai seingatku berharga "lumayan", yang setelah membelinya membuatku gelisah tidur semalaman, gara-gara merasa kemahalan, ada dilemariku. berantakan.

berada dalam kelompok sosial level tertentu, dengan pergaulan tertentu, secara tidak aku sadar mempengaruhi "life style" aku. bergaul dengan IIM JAIM ( Ibu-Ibu Muda Jaga Imej - red) di komplek perumahan ku, dengan sebuah kelompok arisan ekslusif yang anggotanya cuma teman-teman yang bisa nyambung dalam hal ngobrol dan becandaan, mulai menyeret-nyeret aku dalam arus tren yang selalu cepat berubah-ubah.
dandanan pun sok-sok harus di matching-matchingin. tas harus senada dengan sepatu, atau minimal senada dengan warna kerudung yang dipakai. alaaah...!! betapa repotnya...

Perubahan life style yang aku maksud diatas tadi, bukan berarti membuatku menjadi sombong. bukan sama sekali. aku cuma jadi keranjingan membeli tas. itu saja.
Aku sangat tidak suka orang sombong. Jadi insyaallah aku juga tidak bakal menjadi salah satu dari orang-orang sombong itu. Insyaallah..

Nah, kembali kemasalah buku tabungan tadi. Bukunya tetap tidak ketemu. Akhirnya aku menyerah. Tuntas dengan urusan mencari slip pembayaran, tuntas dengan urusan memeriksa semua tas. Aku mengambil telepon dan mulai memencet nomor telepon hallo BCA, dan “hallo…can you guys help me please…!!”

Ternyata memang aku belum melakukan pembayaran untuk tagihan kartu kredit BCA yang dimaksud. Kok bisa ??. dan mulai lah aku mencari-cari alasan pembelaan diri sendiri.. “Ini lah akibatnya kalau punya lebih dari satu kartu kredit“. Punya beberapa kartu kredit yang tanggal jatuh tempo penagihan yang berbeda-beda, sungguh membuat pusing. Dan wajar saja kalau lupa...

Padahal aku sangat tertib dengan peraturan yang aku buat sendiri, mengenai pemakaian kartu kredit, seperti
- Pembayaran tagihan kartu kredit setiap bulannya, harus dibayarkan lunas sesuai jumlah tagihan, dan tidak boleh hanya membayar jumlah pembayaran minimalnya saja, alias tidak ngutang
- Pemakaian kartu kredit harus sesuai dengan budget masing-masing kartu, yang telah ditetapkan sebelumnya. Tidak boleh melebihi budget, kecuali keadaan emergency.

Nah,..jadi salahnya dimana ??, ya itu tadi, karena jumlah kartu kreditnya sudah kebanyakan. Makanya ada yang lupa dibayar.

Hhmm..Sekarang saatnya aku membongkar dompet ku dan dompet suami untuk memilah-milah kartu mana yang akan dipertahankan, dan kartu mana yang akan dipotong jadi dua...
Duh..mumet juga..!!
posted by tetra at 18.55 0 comments

Sabtu, 15 November 2008

Kenapa "Jika" ??

lagi menyortir CD siang tadi, kebetulan aku menemukan CD Melly Goeslow lama. dan tiba-tiba ingin mendengarkan lagu "Jika" nya Melly.

Jika teringat tentang dikau..
jauh dimata, dekat dihati..
sempat terpikir tuk kembali..
walau beda akan kujalani...
tak ada niat, untuk berpisah dengan mu..
.....
.....
Mendengarkan lagu "Jika" selalu mendatangkan nuansa melankolis. Entah kenapa. padahal tidak ada event khusus yang menyangkut isi di lagu itu. cuma dulu, aku pernah diberi "hadiah" oleh seseorang. kaset yang bolak-balik side A dan side B, isinya lagu Jika semua. terus terang aku bingung waktu itu. ini maksudnya apa ??
Seorang sahabat dekat yang tiba-tiba berubah haluan ingin menjadi kekasih, dan dengan mengharu-biru memberondong aku dengan rasa cintanya. entah sejak kapan mulai tumbuhnya, tiba-tiba pohon cinta nya telah berakar dalam, aku nya pada waktu itu...
dengan rasa bingung, kaget, dan bercampur perasaan ingin protes, aku mencerna kondisi hubungan ku, dengan sahabat ku itu, pada waktu masa itu..

dimana salahnya ??
dimana salah ku ??
apa dia yang salah tanggap selama ini ??
apa aku yang tidak sensitif ??

bingung. sungguh bingung luar biasa. sahabat yang selama ini ada , tempat aku berbagi, bercerita, dan berkeluh kesah, tiba-tiba datang terbata menyatakan cinta. mungkin aku yang bersalah. aku yang tidak pernah mau belajar, bahwa hubungan pertemanan dekat aku, dengan teman lelaki tidak pernah akan berjalan mulus...

dan dengan hati hancur aku melepaskan sahabat tersayang ku itu..
cintanya tidak akan pernah bisa menghangatkan hatiku. I'm so sorry...!!

dan, entah untuk alasan apa, dia memberiku kaset bolak-balik berisi lagu jika semuanya. tak mengapa. tidak harus ada alasan jelas untuk melakukan sesuatu. asalkan bisa mengurangi beban di dada, kenapa harus ditanya alasannya ??

seminggu penuh kaset itu aku putar. bolak-balik, side A, side B tanpa pernah merasa bosan mendengar syair nya.
seminggu penuh aku membiarkan bait-bait syair lagu jika, memenuhi rongga kepala, dengan satu niat mulia.
semoga bisa meringankan beban didadanya
semoga saja.

dan sampai sekarang aku tetap tidak mengerti. kenapa lagu jika ??
posted by tetra at 01.18 0 comments

Senin, 10 November 2008

Entah mau diberi judul apa...

Pernah tidak, kalian punya satu kenangan yang sudah dikunci rapat dihati, di ruang hati yang paling kecil dan paling pojok, diberi gembok ganda agar tidak mudah dibuka sembari berdoa semoga cepat-cepat lupa ?? mungkin banyak kenangan yang dipenjara paksa oleh si empunya hati, tanpa orang luar tahu apa dan kenapa kenangan itu harus menerima nasib naas seperti dipenjara mati seperti itu. Aku punya. Aku punya satu pintu seperti itu dihatiku. Terkunci rapat, diberi gembok dobel, sudah kumuh, dan benar-benar sudah lupa, kenangan apa sebenarnya didalam sana. Aku menyadari bahwa pintu itu ada pun secara tiba-tiba, lewat sebuah obrolan ringan dengan teman lama. Sebuah obrolan ngalor-ngidul yang secara tidak aku sadar ternyata merupakan kunci pembuka pintu misterius tadi. Dan sebelum aku siaga, kenangan tadi sudah menemukan kebebasannya. Dia berkeliaran liar, seperti monster gila didalam hatiku. Menandak-nandak, menari-nari dan mencakari dinding-dinding hati sampai aku merasa sakit dan gelagaban. Mangap-mangap sesak nafas....

Ternyata isinya kenangan yang itu..
Dan otakku pun langsung bekerja tanpa diberi aba-aba. Menggali lagi file memori yang sudah berkarat, dan menghasilkan cuplikan-cuplikan kenangan yang aku sadar sudah lupa, tetapi ternyata masih membuat dada hangat dengan hanya mengingatnya saja. Seperti potongan-potongan puzzle yang perlahan menemukan pasangan nya, kenangan itu akhirnya memberikan gambaran jelas yang selama ini aku anggap sebuah tandatanya. Ternyata hidup itu ironi. Hal yang sebenarnya gampang bisa menjadi sedemikian berbelit, hanya karena sebuah alasan yang sangat klise. Apa yang sebenarnya bisa diperoleh hanya dengan satu pengajuan tanya, ternyata menjadi sebuah dilema berkepanjangan yang menghasilkan kecewa.

Dan mengapa pula aku menjadi melankolis begini...??

Bukankah, dengan hanya mengetahui dia ada dan baik-baik saja sudah membuat perasaan lega, merupakan hal yang paling romantis didunia ??

Hahaha..
Seseorang diluar sana boleh berbesar kepala.
posted by tetra at 06.29 1 comments

Kamis, 06 November 2008

Setelah Rum Pergi.......

Rum sudah pamit pulang....
sesuai janjinya, awal bulan ini dia akan pulang, untuk memperoleh kebahagiaan nya sendiri, yaitu menikah. Berarti, berakhir sudah 6 tahun kebersamaan aku dengan Rum. Cepatnya waktu berlalu. Rum sudah ikut aku semenjak Havi berumur belum genap satu tahun, satu moment yang tidak bisa dikategorikan sebentar dalam hubungan aku dengan pengasuh anak-anakku.
seminggu sebelum hari Rum pulang, hatiku sudah mulai sedih. Rum juga. tanpa setauku, Rum menangis malam hari,mengingat bahwa tak lama lagi dia akan meninggalkan rumahku dan meninggalkan anak-anakku yang selama ini sudah sangat dia sayang dan menyayanginya. tapi hukum alam harus berlaku...
ada saat bertemu dan ada saat berpisah...
aku ngengantarnya sampai gerbang komplek dengan air mata berlinang-linang. Zora menangis tidak rela melepas Rum. Rum tersedu-sedu di jok belakang mobil ku. Entah apa pikiran satpam melihat kami melintas.....
dan,.. Rum berangkat sudah....
aku rasanya patah hati. tak mungkin lagi aku rasanya menemukan pengganti pengasuh anak-anakku, yang bisa aku percaya, seperti aku mempercayai Rum...
dan Zora menangis pilu...
bukan tangisan anak kecil yang marah berteriak-teriak, tapi tangisan tersedu yang membuat hatiku makin sedih...
sepertinya dia juga sedang patah hati....
ku doa kan semoga Rum memperoleh kehidupan yang lebih baik seperginya dia dari kehidupan rumah tanggaku...
dan semoga Allah memberiku pengganti yang lebih baik dari dia...
InsyaAllah....
BSD, 2 Nov 2008
posted by tetra at 00.44 0 comments